Langsung ke konten utama

GBTI
..
Oleh Woko Utoro

"Grebeg Bhinneka Tunggal Ika" yg di singkat (GBTI), begitulah nama acara yg usai di helat kemarin (26/12/17) yg bertempat di lapangan utama kampus IAIN Tulungagung. Embrio acara ini sebenarnya sudah lama ingin segera di gagas dan di laksanakan namun akibat beberapa kendala dan hal-hal lain maka, acara ini baru hari kemarin dapat terlaksana. Walaupun terkesan mendadak akan tetapi alhamdulillah berjalan lancar dan damai.
..
Jika kita ketahui salah satu kota di di Indonesia memiliki event yg serupa seperti di Jogja ada grebeg sekaten, Cirebon ada grebeg mulud, di Ponorogo ada grebeg suro, di Blitar ada grebeg Pancasila dan tentunya masih banyak lagi kota lainya di Indonesia yg memiliki acara yg sama termasuk Banten, Surakarta dan bahkan di luar pulau jawa. Dari Inspirasi itulah Tulungagung sbg kota yg baru saja sedikit demi sedikit di gali potensi kekayaan luhurnya, ternyata di klaim dan di deklarasikan berdasarkan pengamatan spiritual dan penelitian ilmiah merupakan kota yg di intrepretasikan sebagai kota pendermaan Ratu Gayatri Rajapatni (candinya berada di Boyolangu-Tulungagung) yg melahirkan ajaran "Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa" yg semuanya termaktub dalam kitab Sutasoma karya empu Tantular sekitar abad ke-14 di era kerajaan Majapahit. Sehingga di rasa pentinglah acara tersebut di gagas sebagai upaya menggali peradaban yg telah lama terpendam dan akan melawan arus transnasional yg semakin hari makin memprihatinkan.
..
Kegiatan GBTI itu sendiri berupa arak-arakan dan orasi kebudayaan. Orasi kebangsaan dan kebudayaan tersebut di sampaikan langsung oleh: Prof. Dr. Hariyono, M.Pd (Deputi Bidang Advokasi UKP-PIP (Unit Kerja Presiden-Pemantapan Ideologi Pancasila), Eva Kusuma Sundari (Kaukus Pancasila, DPR RI), Kusnadi, SH, M.Hum (Sekwan DPRD Jatim), Supriyono, S.E, M.Si (Ketua DPRD Tulungagung) dan tentunya Dr. Maftukhin, M.Ag selaku (Rektor IAIN Tulungagung). Juga di hadiri Bupati Tulungagung bapak Sahri Mulyo, SE, M.Si. 
Dari tokoh tersebut saya terkesan dengan bu Eva yg dalam orasinya banyak sekali mencuplik perkataan bung Karno seperti, "Bangunlah suatu dunia dimana semuanya bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan, kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak. Sehingga menambah semangat para peserta. Dalam berbangsa dan bernegara.
..
Sekitar 3000 peserta mengikuti acara ini yg pesertanya tersebut tersebar dari berbagai elemen masyarakat lintas Agama/keyakinan termasuk para penghayat, majelis luhur kepercayaan indonesia, pegiat seni dan komunitas. Mereka tidak di bayar ataupun membayar. Semuanya berdasarkan panggilan hati yg bersifat Swa, yg artinya swadaya masyarakat itu sendiri yg menjadikan mereka terpanggil untuk mengikuti acara ini. Ada becak, sepeda, dokar, motor, mobil yg tentunya semua di hias berdasarkan kesenian dan ada pula sesuai dengan identitas keagamaan, semua tumpah ruah serta antusias untuk menuju tempat utama yaitu dari IAIN Tulungagung menuju candi Gayatri di Boyolangu tersebut.
..
Acarapun di tutup dengan do'a bersama tentunya berdasarkan kepercayaan masing2. Sehingga kita semua berharap, semoga acara yg dapat menciptakan integritas antar sesama ini dapat berlangsung untuk kedepanya. Buka sekedar iconik sebuah daerah melainkan issu yg harus di bawa ke dunia nasional dan internasional. Bahwa Indonesia memiliki ideologi pancasila yg dapat mempersatukan semuanya. Saling menghormati dan menghargai adalah salah satu upaya menghargai jasa para leluhur guna mencapai kedamaian dalam berbangsa dan bernegara. Salam keanekaragaman. "Walaupun berbeda-beda akan tetapi tetap satu tujuan". Indonesia adalah rumah kita bersama.
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...