Woko Utoro
Anda tahu bahwa di manapun tempatnya praktek-praktek kolonialisme adalah berdosa. Kolonialisme adalah setan-setan yang berdiri di atas kuasa kepentingan demi tujuan merampok harta benda, memonopoli sumberdaya, memperbudak hingga pembodohan dan pembunuhan. Salah satu pembodohan produk kolonialisme adalah menebar ketakutan dan ancaman. Ketakutan dan ancaman itu ironisnya ditebar dengan prinsip mengambil ikan di air keruh. Mereka mendapat ikan dan keruhnya air dialamatkan ke objek lainnya. Atau paling tepat lempar batu sembunyi tangan.
Jika ditarik ke konteks kekinian praktek kolonialisme masih tercium menyengat. Bahkan teror tersebut akan terus lestari sekalipun jaman silih berganti. Terbaru teror kepala babi dan tikus ke kantor redaksi Tempo. Praktek demikian tentu cara lama dan kampungan sekaligus pecundang. Yang tujuannya untuk mengancam tapi pelaku menyembunyikan data dirinya. Praktek demikian tentu bukan kali ini saja tapi sudah subur terutama di akhir abad 19 terkhusus pada tahun 1886 M.
Dalam Buku Jawa, Islam di Masa Kolonial, (terj. Irfan Afifi, 2020) Nancy K Florida menyebutkan setidaknya ada 4 cara penjajah menebar teror terkhusus kepada orang Jawa dan Islam. Pertama, para menjajah menebar stempel bahwa sampai kapanpun orang Jawa yang mengikuti ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW disebut Islam sinkretis, alias bukan orisinil. Akibatnya dari itu orang Islam Jawa tidak percaya diri tentang identitas keislamannya. Kedua, karena pribumi pada saat itu masih bodoh maka otoritas keagamaan dipegang oleh pihak keraton dengan keputusan sesuai pesanan petinggi kolonial.
Ketiga, penjajah menjauhkan tradisi pembacaan pribumi terhadap karya tulis intelektual Jawa. Yang terjadi justru mereka mengaburkan sejarah lewat proyek pemalsuan dengan menggandeng pujangga keraton. Keempat, penjajah memainkan peranan dalam berbagai aspek termasuk ekonomi politik dengan memanfaatkan petinggi pribumi salah satunya mempersulit regulasi orang berhaji. hlm 3-19.
Jika diamati dengan saksama, bangsa kolonial itu takut jika orang Jawa yang berafiliasi pada Islam dan tarekat, orang Jawa yang pulang dari haji dan orang Jawa yang mempelajari karya tulisnya terkhusus sastra Jawa bercorak sufistik. Karena beberapa faktor itulah ide anti kolonial dihembuskan begitu deras. Akibatnya pemberontakan terhadap penjajah meletus di berbagai wilayah.
Jadi sekarang jelas bahwa ketakutan bangsa kolonial adalah terhadap orang Jawa yang Islam. Karena dalam Islam membuat orang Jawa terinspirasi akan konsep perang sabil. Perang yang sesungguhnya bukan sekadar mengusir kaum penjajah melainkan menaklukkan hawa nafsu. Inilah Islam Jawa yang khas di mana jika kita melestarikannya maka sama halnya menjadi pengikut Kanjeng Nabi Muhammad SAW dari sudut paling jauh. Walaupun begitu kita percaya diri bahwa Islam dan Jawa tidak bisa dipisahkan. Sungguh pemisahan Islam dan Jawa adalah ulah setan-setan kolonial.[]
the woks institute l rumah peradaban 26/3/25
Komentar
Posting Komentar