Langsung ke konten utama

Menimbang Kegelapan Pada Diri




Woko Utoro

Imam Ghozali pernah berkata bahwa hati manusia serupa rumah. Di sana terdapat resah, gelisah, tangis, bahagia dan suka cita. Tinggal perasaan mana yang akan bersemayam di sana. Dari perkataan itu kita tinjau secara psikologis bahwa hati memang alat kontrol yang menampung segala macam perasaan.

Perasaan itu tentu bisa berdampak pada perilaku. Jika perilaku itu baik mungkin keuntungan bagi kita. Tapi sebaliknya jika menjadi laku buruk maka kerugian bagi kita. Hanya saja kadang kita lebih mudah menyalahkan laku buruk tersebut. Laku buruk sering juga disebut sisi gelap manusia. Sebuah sisi yang tidak bisa dihindari kecuali mereka yang mampu mengelola emosi.

Mereka yang mampu mengontrol nafsu adalah manusia kuat. Kata Nabi Muhammad SAW, kekuatan bukan terletak pada otot melainkan bisa menahan amarah. Bicara emosi juga bicara nafsu. Emosi dalam bahasa psikologi sedangkan nafsu dikenal dalam tradisi agama. Keduanya sama-sama mewarnai kondisi hati hingga menjadi laku. Oleh karena itu melihat dua sisi pada manusia sangatlah penting terkhusus sisi gelap.

Kata Carl Gustav Jung dalam (Muhammad, 2025) melihat sisi gelap diri sendiri sebelum melihat sisi gelap manusia. Dalam arti setiap orang memiliki masa lalunya tersendiri. Artinya kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena masa lalunya. Hal itu agar terhindar dari penghakiman sepihak. Jika kita telah berdamai dengan kegelapan diri maka yang ada akan saling memahami.

Misalnya dalam konteks orang yang hendak bertaubat kata Gus Iqdam ibarat piring kotor. Namanya piring kotor maka harus dicuci bukan dicaci apalagi disingkirkan. Demikianlah sisi gelap orang lain yang seharusnya dijadikan pelajaran buat kita. Jangan dikira kita yang dianggap di jalan cahaya kebenaran pun berpotensi salah. Maka dari itu jangan kutuk kegelapan dan berdamailah dalam segala kondisi.

Di sinilah barangkali kita diperintahkan untuk belajar dalam proses pensucian. Pensucian itu dikenal dengan tazkiyatun nafs yang setiap orang harus menempuh perjalanan tersebut. Karena dalam diri manusia terdapat shadow maka perlulah sering berkaca diri. Introspeksi diri dan evaluasi diperlukan agar kita tahu sisi gelap atau terang yang bersemayam dalam diri. Jika kita tahu potensi mana yang dominan maka akan mampu mengontrol emosi atau nafsu.[]

the woks institute l rumah peradaban 25/3/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...