Woko Utoro
Saya pernah ditanya bagaimana menurut mu buku berat dan ringan itu? Saya pun menjawab sederhana jika yang dimaksud bobot berat kuantitas tentu buku-buku bertumpuk dengan sampul tebal jawabannya. Tapi jika yang dimaksud bobot isi maka buku filsafat dan sejenisnya adalah jawabannya.
Soal buku tersebut saya sering bercanda bahwa buku resep masakan dengan berat 5 kg misalnya justru lebih mudah dipahami daripada buku filsafat atau tasawuf beberapa lembar. Maka dari itu pertimbangan utama sebuah buku adalah isinya. Tak peduli setebal apapun sebuah buku jika isinya hanya sekadar coletah maka bisa disebut tak lebih berbobot. Pada prinsipnya buku itu bukan soal bobot baik berat ataupun isi melainkan kemampuan untuk memiliki dampak bagi pembacanya.
Coba kita bayangkan berapa orang yang terdampak pasca membaca karya Hemingway dengan Old Man and the Sea nya. Buku tipis itu sudah menginspirasi jutaan orang di dunia untuk menerapkan hidup gigih pantang menyerah dan sabar akan sebuah proses. Sebaliknya saya pernah membaca buku kurang lebih hampir 800 halaman tapi isinya sampah. Buku tersebut hanya berisi pengulangan kata dan tulisannya hampir semua typo. Buku itu pula isinya hanya berupa kalimat yang jika kita cari di internet semua ada. Ketika membaca buku itu rasanya saya merasa mentah dan buang-buang waktu.
Dari dua hal itu saya sebenarnya hanya ingin mengatakan benar juga bahwa menulis buku itu tidak semudah apa yang dibayangkan. Seberapapun hasil tebal tipisnya ternyata membuat buku itu nampak jatuh bangun. Buku Cengker Ramadhan (2022) saya tulis tahun 1443 H. Buku tipis itu saya selesaikan sekitar setahun lamanya. Entah kenapa bisa terjadi. Bahkan saya memerlukan beberapa kali ziarah ke Makam Gus Miek di Tambak Mojo Kediri. Tujuannya sederhana yaitu agar buku tipis tentang syarah Ramadhan tersebut terselesaikan. Hingga akhirnya buku tipis itu usai saya garap dengan susah payah.
Terakhir, buku adalah rekam jejak bahwa kita selalu bergelut dengan pikiran. Lewat buku itulah kita tahu betapa dangkalnya pengetahuan jika hidup merasa puas. Menulis buku adalah cara mengetahui segala macam kekurangan diri sendiri. Buku adalah sarana efektif untuk mengawetkan peradaban. Melalui buku kita akan sadar bahwa masih banyak hal yang perlu ditulis laiknya pengetahuan yang terus berkembang.[]
the woks institute l rumah peradaban 13/3/25
Komentar
Posting Komentar