Woko Utoro
Memaafkan merupakan ajaran Al Qur'an. Begitu pula yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW jika sesama saudara masih menyimpan dendam maka tak akan mencium bau surga. Kata Gus Dur, maaf mungkin tidak dapat merubah masa lalu tapi maaf menyediakan masa depan. Maaf mungkin mudah diucapkan tapi sulit untuk direalisasikan terutama soal aspek batin.
Untung saja di Indonesia khususnya Jawa maaf ini justru terlembagakan dalam tradisi lebaran atau halal bi halal. Tradisi tersebut mewadahi sekaligus memaksa orang yang kesulitan memaafkan. Yang sejatinya meminta dan memberi maaf keduanya sama-sama mulia. Bahkan dalam disiplin ilmu psikologi saling memaafkan akan menyehatkan aspek mental. Menurut penelitian juga disebutkan jika orang yang sukar memberi maaf lebih mudah ambruk diterpa stress.
Di sinilah menariknya bahwa maaf itu bukan tentang idealisme tapi berkaitan itikad baik berdamai sejenak. Bahwa hidup tak selamanya sempurna. Atau dalam makna tak ada gading yang retak maka manusia memerlukan pengakuan bahwa dirinya tak selalu benar. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Sehingga maaf bukan sekadar kata tapi upaya merajut kembali benang yang lama kusut.
Andai jika kita tak memiliki tradisi memaafkan bagaimana jadinya dunia. Mungkin hidup kita tak penuh warna. Bukankah memaafkan adalah lambang ksatria. Di mana orang yang saling memaafkan bukan tentang kekalahan atau mengalah melainkan sikap luhur yang satu sama lain menyeka untuk menyimpan rasa sakit. Dengan saling memaafkan dunia diperluas dan melalui dendam maka dunia terasa sempit. Ingat pesan Imam Ghazali bahwa hanya dengan menundukkan ego maka cinta mengerti jalan pulang. Rumi juga menambahkan bahwa memaafkan berarti memutar cinta ke yang sejati bukan justru berpaling dan pergi.[]
the woks institute l rumah peradaban 1/4/25
Komentar
Posting Komentar