Langsung ke konten utama

Puasa dan Dimensi Sosial




Woko Utoro 

Sudah banyak pelajaran serta hikmah yang kita dapatkan dari puasa. Salah satu ibadah yang menjadi rukun Islam selain shalat, zakat dan naik haji. Puasa juga selalu dikupas dalam berbagai sudut pandang. Dan anehnya seperti halnya ritualitas ibadah lainnya juga tak pernah ada habisnya. Salah satunya dalam sudut pandang sosial.

Misalnya saya pernah bertanya kepada Haji Yasin Bisri yang merupakan penyuluh agama Islam Kemenag Kabupaten Tulungagung. "Pak sebenarnya yang harus menghormati itu orang puasa atau orang yang tidak puasa?". Pak Haji Yasin menjawab, "Orang yang puasa harus menghormati dan orang yang tidak puasa harus menghargai. Jadi intinya kedua mereka harus saling menghormati".

Pak Yasin juga menjelaskan mana mungkin orang yang sedang berpuasa justru merendahkan. Harusnya orang puasa itu rasa hormatnya tinggi. Pun begitu juga pada yang tidak puasa. Misalnya jika mereka memiliki warung tolonglah yang biasanya dibuka lebar nah maka selama Ramadan dibuka setengah. Atau juga jika punya ada warung buka maka jangan langsung dihakimi. Sebab kita juga menghargai barangkali ada saudara kita yang perlu makan karena sakit, tua renta atau anak-anak.

Maka dari itu saling menghargai dan menghormati ini adalah membangun harmoni. Sedangkan harmoni tersebut adalah ajaran agama. Agama memberikan fasilitas bahwa antara ajarannya dan sosial tetap berjalan beriringan. Tidak boleh satu sama lain berjalan pincang. Sungguh ajaran agama sebenarnya merupakan inspirasi sosial. Misalnya ada orang tidak tarawih jangan langsung dihakimi salah. Bisa jadi mereka tengah berjuang untuk menafkahi keluarga. Sederhananya bahwa tarawih itu sunnah sedangkan menafkahi keluarga itu wajib. Maka dari itu kita perlu mempertimbangkan hal wajib di atas yang sunnah.

Di sinilah kita belajar bahwa puasa memiliki beragam dimensi salah satunya sosial. Bahwa puasa itu wajib memang benar. Tapi kita juga ingat bahwa spirit puasa adalah menahan atau ngempet dari hal-hal yang membatalkan puasa. Dan rerata kita lulus dalam puasa fisik menahan makan minum tapi lebih sering kita gagal dalam puasa batin menjaga terjadinya penyakit hati.[]

the woks institute l rumah peradaban 10/3/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...