Dalam sebuah pengajian Ramadhan, Gus Mus berkomentar jika koruptor itu terlahir karena memelihara sifat tamak sejak lama. Kata Gus Mus orang miskin tamak mungkin jelas karena ketidakpunyaannya. Sedangkan koruptor itu tamak karena kelebihan. Maka dari itu koruptor lebih cocok disebut maling. Karena mereka tak ada bedanya untuk merampok hak yang bukan miliknya.
Soal tamak memang sudah menjadi sifat berbahaya sejak lama. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri pernah dawuh andai anak adam memiliki dua lembah emas niscaya mereka akan meminta yang ketiga. Itulah sifat asli manusia yang tak akan pernah puas. Maka dari itu tamak adalah penyakit hati yang harus dikalahkan. Salah satu solusi menjinakkan tamak adalah dengan berpuasa.
Puasa mengajarkan kita untuk qanaah atau menerima atas karunia Allah SWT. Jika Allah memberi kita sedikit maka bersyukurlah masih diberi. Terlebih jika diberi banyak itu juga lebih dari cukup. Selain itu puasa juga mendidik kita untuk menjadi wara' atau wirai alias hati-hati terhadap banyak hal. Terutama hati-hati terkait makanan, gaji hingga hak orang lain.
Problemnya mengapa orang bersifat rakus, serakah, kikir dan tamak adalah karena miskinnya iman. Sejak awal mereka mengira jika semua urusan dunia adalah milik manusia. Sehingga tak salah jika cinta dunia adalah pangkal dari sifat tamak. Mereka lupa bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Termasuk sebagian harta yang dimiliki adalah 2,5% nya selalu ada milik orang lain.
Andai saja jika orang tidak gelap mata, selalu cukup dan mudah bersyukur niscaya ketamakan bisa dikendalikan. Hanya saja manusia sudah terlanjur tercebur dalam kesenangan dunia, dipengaruhi lingkungan, gengsi, hilangnya prinsip hidup dan tidak mudah puas. Sehingga sifat rakus menguasai hidupnya untuk tidak mengatakan cukup. Maka dari itu kendalikan dengan puasa agar nafsu syahwat dikekang.[]
the woks institute l rumah peradaban 10/3/25
Komentar
Posting Komentar