Langsung ke konten utama

Puasa Mengikis Ketamakan




Woko Utoro

Dalam sebuah pengajian Ramadhan, Gus Mus berkomentar jika koruptor itu terlahir karena memelihara sifat tamak sejak lama. Kata Gus Mus orang miskin tamak mungkin jelas karena ketidakpunyaannya. Sedangkan koruptor itu tamak karena kelebihan. Maka dari itu koruptor lebih cocok disebut maling. Karena mereka tak ada bedanya untuk merampok hak yang bukan miliknya.

Soal tamak memang sudah menjadi sifat berbahaya sejak lama. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri pernah dawuh andai anak adam memiliki dua lembah emas niscaya mereka akan meminta yang ketiga. Itulah sifat asli manusia yang tak akan pernah puas. Maka dari itu tamak adalah penyakit hati yang harus dikalahkan. Salah satu solusi menjinakkan tamak adalah dengan berpuasa.

Puasa mengajarkan kita untuk qanaah atau menerima atas karunia Allah SWT. Jika Allah memberi kita sedikit maka bersyukurlah masih diberi. Terlebih jika diberi banyak itu juga lebih dari cukup. Selain itu puasa juga mendidik kita untuk menjadi wara' atau wirai alias hati-hati terhadap banyak hal. Terutama hati-hati terkait makanan, gaji hingga hak orang lain.

Problemnya mengapa orang bersifat rakus, serakah, kikir dan tamak adalah karena miskinnya iman. Sejak awal mereka mengira jika semua urusan dunia adalah milik manusia. Sehingga tak salah jika cinta dunia adalah pangkal dari sifat tamak. Mereka lupa bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Termasuk sebagian harta yang dimiliki adalah 2,5% nya selalu ada milik orang lain.

Andai saja jika orang tidak gelap mata, selalu cukup dan mudah bersyukur niscaya ketamakan bisa dikendalikan. Hanya saja manusia sudah terlanjur tercebur dalam kesenangan dunia, dipengaruhi lingkungan, gengsi, hilangnya prinsip hidup dan tidak mudah puas. Sehingga sifat rakus menguasai hidupnya untuk tidak mengatakan cukup. Maka dari itu kendalikan dengan puasa agar nafsu syahwat dikekang.[]

the woks institute l rumah peradaban 10/3/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...