Langsung ke konten utama
Masalah Sampah
..
Bang Woks
Jika anda berkendara ke wilayah desa Gantar lalu sempatkan arah kendaraan anda menuju arah blok Punduan Mekarjaya hingga desa Sanca. Pasti di bahu jalan sebelum jembatan kali anda akan di suguhi deretan sampah yang tercecer sepanjang kurang lebih 1kilometer. Sungguh pemandangan yang menyupekan mata, apalagi jika pas di bakar, pasti kebul asapnya tak sudi kita hirup. Dan itulah yang harus kita aminkan keberadaanya. Lalu siapa pula yang harus di salahkan, jika memang kita menikmati fasilitas tersebut.
Sampah lagi, dan lagi lagi sampah begitulah keluhanya. Sudah bukan rahasia umum lagi, sampah yang berserakan dan tidak di kelola dengan baik menjadi polemik nasional bahkan dunia. Tapi rasanya masalah sampah tidak pernah berkesudahan, selalu saja berlarut-larut hingga menimbulkan kausalitas bencana. Adanya sampah berakibat adanya banjir, mungkin itulah hukum yang berlaku. Akan tetapi sejauh ini masyarakat merasa enjoy saja dengan keadaan itu, mungkin karena banyak faktor atau bahkan karena dalih yang mendominasi emosi diri. Sehingga salah pun terasa benar. Disinilah Harun Yahya menamainya dengan "ancaman di balik romantisme".
Tidak usah ada dalil-dalilan terkait masalah yang satu ini, tentulah kita amat sadar dan paham bahwa membuang sampah sembarangan itu perbuatan yang tidak baik lagi merugikan. Layaknya sederhana saja banyak tulisan yang menghimbau bahwa jangan buang sampah sembarangan. Dan kurang apa lagi, sejak di taman kanak-kanak hingga di setiap sekolah tertulis dan terpampang di dinding sekolah dengan huruf besar "BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA" dan "KEBERSIHAN sebagian dari IMAN". Tapi lagi-lagi ini pekerjaan rumah buat kita semua soal kesadaran.Tulisan itu cuma hanya hiasan belaka yang melintas dari mata, ke kepala dan turun ke kaki lalu hilang bersama debu yang beterbangan. Jadi tidak ada proses masuk kedalam hati dan gerak jiwa. Sehingga secara jasmani kita adalah sadar, namun secara jiwa rohani kita telah mati.
Seharusnya dari pihak pemerintah harus ada yang mengatur masalah ini agar masyarakat lebih paham dan ikut andil dalam pelestarian lingkungan. Tentu bukan hanya sekedar sosialisasi tapi harus di buat adanya TPA (tempat pembuangan akhir) yang pastinya memadai. Karena tidak mustahil bahwa pemerintah pusat telah menyediakan dana salah satunya agar dapat mengelola masalah sampah ini. Dan perlu di ingat bahwa asas pembangunan itu harus holistik (menyeluruh). Disisi lain membangun TPA dan di satu sisi yang lain kita harus membangun mental warganya, agar keduanya saling kesinambungan. Sehingga antara tempat dan mental sama-sama telah benar-benar di bangun. WR Supratman berpesan melalui bait syair Indonesia Raya, " bangunlah jiwanya, bangunlah badanya". Nah jadi keduanya, bukan salah satunya.
Selain pihak birokrasi, masyarkatlah yang lebih utama di sadarkan, agar mereka lebih peduli lagi terhadap lingkunganya. Jika keduanya tidak saling sinergi, pasti sampai kapanpun masalah sampah akan menjadi dosa sosial yang tak akan berkesudahan hingga anak cucu nanti.
Hanya ada dua sampah di dunia ini yang harus kita fahami yaitu, sampah asli (limbah pabrik atau rumah tangga) dan sampah masyarakat. Janganlah kita jadi keduanya. Atau jika ia pun, jadilah sampah yang orang pun masih sudi memungutnya yaitu rongsokan. Tapi alangkah indahnya jika lingkungan ikut lestari dan kembali tersenyum dengan manusia berkesadaran akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya, syukur-syukur di olah agar menjadi barang yang berguna. Selamat merenung.
#Salam_budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...