Langsung ke konten utama
Sarjana tanpa Gelar
..
Bang Woks
Jika guru di sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, karena memang jasa mereka benar-benar besar sehingga sulit sekali jika bisa terbayarkan. Jika para tenaga kerja di luar negeri pun di sebut sebagai pahlawan devisa tentu mereka pula yaitu orang-orang yang rela berjuang demi sebuah penghidupan. Serta yang satu ini juga layak di sebut sebagai pahlawan pangan. Mereka adalah petani. Dan tanpa mendiskreditkan yang lain, petani pun adalah sesosok orang yang benar-benar telah membuat banyak orang mengerti akan sebuah perjuangan demi sesuap nasi. Dan tentunya siapapun layak di sebut sebagai pahlawan, selagi mereka masih memiliki jiwa memperjuangkan kebaikan dan kehidupan.
Seperti sebuah perjuangan terhadap sebuah gelar. Yang biasanya di peroleh dari sekolah atau kuliah. Ada salah satu jalan fikiran bahwa petani adalah mahasiswa alam semesta yang juga memiliki gelar. Sebenarnya mereka selama ini juga kuliah. Dan hal itu yang menjadi tanda tanya banyak orang, apakah benar?. Mungkin inilah sedikit ulasanya. Awalnya mereka menunggu saat-saat srategi musim tanam tiba dengan menganalisis alam, menentukan pembibitan dan tentunya kebutuhan pupuk yang semakin hari semakin melonjak harganya. selama masa tunggu hingga musim panen tiba, mereka selalu ujian tengah semester dengan melihat situasi dan kondisi yang ada. Biasanya ujian terberat adalah melawan hama dan ketiadaan air pada saat sedang di butuhkan. Tak jarang ironi melanda. Air tak turun walaupun musim penghujan tiba. Begitulah iklim sekarang, penuh dengan analisis dan serangkaian wacana yang harus selalu di waspadai para petani.
Mereka merasa sangat senang ketika semesteran tiba, yaitu ketika musim rendeng (penghujan pertama) dan musim ketiga (halodo, atau panen ke dua), semuanya pasca 3 bulan atau 100 hari dari mulai proses awal tanam hingga panen. Ketika saat semesteran inilah mereka akan melihat hasil nilai dari perjuangan selama ini yaitu panen. Apakah akan mendapatkan nilai yang maksimal atau tidak. Tentu akan mudah terjawab dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Panen raya sebuah simbol wisuda bagi para petani, begitulah kiranya setelah melewati panjangnya masa perkuliahan.
Setelah berjuang mengisi dan menempa diri dari jam kuliah yang padat, hingga bergelut dengan penatnya masa-masa skripsi. Kini saatnya kita akan diwisuda setelah usai dari ujian tersebut. Tentu wisuda ini bukan momen yang spesial atau bahkan glamor dengan seremonial. Melainkan sebuah uji materi apakah kita layak bersua kelas akbar atau tidak. Kelas tersebut bernama masyarakat. Kelas yang menjadikan hal apapun menjadi nyata dan keras.
Masyarakatlah yang akan memberikannya gelar tersebut. Khusus masyarakat desa, gelar yang di tawarkan hanya dua yaitu keagamaan ala (kyai ustadz ulama) atau ala orang pinggiran anak jalanan, maling atau sejenisnya. Tentu semuanya berdasarkan praktek kerja lapangan bukan sekedar teoritis. Masyarakat tidak melihat apapun dari para sarjana kecuali sebuah fakta bahwa apakah mereka benar-benar menjadi orang yang bermanfaat atau sebaliknya.
Hingga akhirnya kita menemui bahwa sarjana tanpa gelar adalah mereka orang-orang selalu senang terhadap ilmu pengetahuan walaupun hari ini mereka tak berada di sekolah lagi. Mungkin para petanilah sarjana tersebut yang selalu belajar menanam hingga penghayatan terhadap alam semesta atau mungkin para pedagang yang selalu belajar bagaimana mengatur produksi sampai mengatur keekonomian. Atau mungkin anda, segelintir orang yang selalu senantiasa menjadikan apapun sebagai pelajaran dan ilmu pengetahuan dengan mengkaji dan menghayati. Aristoteles berpesan "hidup yang tanpa proses penghayatan (belajar) di dalamnya tentu hidup yang tak layak di teruskan".
#Salam_budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...