Langsung ke konten utama
Obat buat Orang Kecewa
..
Bang Woks
Dalam hidup ini ribuan warna dan rasa tersedia buat manusia. Rasa dan warna yg selalu mengundang rahasia. Dari banyak rasa dan warna itu ada yg bersifat positif dan negatif, lembut dan kasar, menyenangkan atau menyakitkan. Salah satu dari sekian rasa yg hampir pernah di hadapi manusia adalah rasa kecewa.
..
Menjadi manusia yg terkena dampak kecewa adalah hal yg manusiawi karena, kekecewaan adalah salah satu cara orang lain mengajarkan kepada kita arti interaksi sosial, walaupun memang menyakitkan. Ya benar sekali, perlu di ingat bahwa jika anda belum pernah merasa kecewa jangan-jangan anda jarang berinteraksi dengan orang lain atau jangan-jangan anda tidak memiliki teman. Tapi ingat bahwa rasa kecewa itu bukan di cipta tapi biarkan mengalir sendiri bak air sungai yg trus menemui setiap muara.
..
Penyebab kekecewaan pada diri seseorang sangat beragam sumbernya seperti terjadi karena, tidak di terima dalam sebuah wadah organisasi, mendapat nilai kecil, terlambat masuk kelas, putus dengan pacar atau tidak di hargai ketika berbicara dan berpendapat (ide dan gagasan). Hal-hal yg demikianlah terkadang membuat kita terlena sehingga lupa. Kita tidak lebih psikologis dari orang yg tak mengerti apa itu ilmu psikologi. Bahkan anak punk lebih mengerti perasaan orang lain ketimbang orang yg hanya mengedepankan nalar fikiranya, apalagi yg merasa diri Aku (pintar). Disinilah moral lebih penting dari pada pengetahuan.
..
Kita juga sering merasa minder, merasa Tuhan dan orang lain itu tidak adil atau bahkan merasa bahwa diri ini sudah tak berguna lagi. Dari pada memikirkan rasa dari rasa itu lebih baik kita memikirkan hal yg lain yg bersifat positif dan membangun, move on begitulah. Kekecewaan seharusnya di bayar dengan sesuatu yg membuat diri trrus berintrospeksi. Sudah sejauh mana dan sudahkan kita penuhi hak-hak orang lain atau pendek kata sudah sejauh mana kondribusi terhadap apa yg selama ini kita abdi. Kita lebih mudah menyalahkan ketimbang mengoreksi, kita lebih mudah marah ketimbang ramah. Inilah hidup harus mampu memilih. Karena dari setiap pilihan hidup mengandung konsekuensi.
..
Kecewa itu jika di analogikan seperti gubuk dan istana di tengah hujan. Lebih baik berada di gubuk kecil dan terhindar dari hujan dari pada hanya memikirkan istana yg nisbi. Nah disinilah pandangan kita yg lebih memikirkan kulit dari pada hakikat. Kita lebih mampu menilai istana yg tiada dari pada gubuk kecil yg sangat jelas adanya. Dalam hal yg lain kita jangan terlalu berharap puji atau jangan terlalu berkhayal agar orang menghormati, tapi lagi2 memperkaya dan berkaca diri lebih baik. Husnudzon lah.
..
Jika dalam kaidah beragama, Islam telah mengajarkan bahwa berfikir positif dan mawas diri adalah salah satu langkah awal menghindari rasa kecewa. Saling menghargai dan melihat situasi kondisi antar satu sama lain. Dari hal kecil itulah kita dapat mengerti arti bahwa membuat kecewa itu bukanlah hal yg mengenakan. Trainilah diri dengan melihat hakikat wudhu dan puasa.
Belajarlah sabar dan ikhlas dalam setiap sesi kehidupan, jangan melihat diri ini penting tapi lihatlah kepentingan kita untuk siapa. Innamal a'malu binniyat. Ingatlah Allah dimanapun dan kapanpun berada.
..
Mengambil istilah jawa "noto polah ben ora salah". Lalu kita tutup dengan kalimat hawqallah.
La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya Pelindung)
..
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...