Langsung ke konten utama
Rujak dan Sholawat
..
BangWoks
Dalam sebuah kesempatan yg lalu saya dan teman2 berkesempatan merasakan segarnya rujak buah. Kesempatan kecil itu menjadi momen langka bagi saya. Maklum saja istilah rujak disini dan di daerah saya memiliki interpretasi arti yg sedikit berbeda. Nama, metode sama namun tujuan dan bahan berbeda. Ketika merasakan rujak itu alangkah bahagianya hati, layaknya hidup di masa nostalgia, jika dalam bahasa keseharian saya rujak itu di kenal dengan istilah majak atau ngarujak. Disini rujak identik dengan lontong dengan bumbu kacangnya, padahal jika di rumah saya rujak pastinya selalu merujuk pada rujak buah.
..
Jika bicara rujak pastinya akan berbicara juga tentang sambalnya. Dalam tulisan sederhana ini pun saya tidak akan menyinggung cara membuat dan bahan apa saja untuk membuat rujak buah, tentunya anda memiliki selera tersendiri. Saya justru akan mengilustrasikan rujak dengan emosi atau nafsu pada manusia yg tertuang dalam bahan, bumbu dan terutama sambalnya.
Sambal dalam rujak buah rasanya tidak ramai jika tidak berasa pedas, tidak tertantang dan kurang greget di lidah begitulah anak muda zaman sekarang mengatakanya. Lalu melihat hal itu saya jadi teringat dengan manajemen emosi yg terkandung dalam ajaran sambal pada rujak itu. Walaupun emosi itu tidak selalu identik dengan kemarahan. Masih banyak macam dari emosi pada manusia, jika dalam bahasa agama di sebut hawa nafsu.
..
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Jabir telah datang kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Orang-orang yang baru berperang?’ Maka Rasulullah SAW berkata, “Kalian datang dengan sebaik-baik kedatangan, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya, “Apakah jihad besar itu?” Beliau menjawab, “Jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya.”
Nah yg saya tangkap dari kegiatan rujak bareng itu seperti apa yg ada di fikiran saya bahwa, di antara banyak rasa yg tergabung dari beberapa rasa buah, ada yg manis, asam, tawar, dan tentunya pedas. Itulah rasa yg di sebut emosi. Rasa pedaslah yg paling mendominasi nah itulah salah satu gambaran emosi yg ada pada manusia. Emosi atau nafsu menjadi musuh yg bukan untuk di brantas atau di bunuh dalam strategi perang melainkan, harus di kendalikan dalam diri. Jika hal itu kita biarkan maka suatu saat kita akan di kuasainya bahkan menjadi budaknya.
..
Kata Syaikh Abu Laits As Samarqondi dalam Kitab Tanbihul Ghafilin menyebutkan bahwa nafsu itu ibarat sebuah gunung yg sangat besar dan pada saat itu pula lah akan tiba saat-saat meletus, maka makanlah gunung itu (kendalikan). Apa yg di sampaikan Syaikh Abu Laits itu merupakan salah satu penggalan cerita bagaimana mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu tergambar seperti sang prajurit yg siap perang. Maka kitalah sang ksatria yg akan melawanya.
..
Setelah acara rujak bareng usai emosi dalam diri utamanya rasa amarah yg terus menempel di hati mencoba saya redam walau hanya sesaat. Malam harinya pas sekali 12 muharram dan pada saat itu terselenggara acara sholawat bersama majelis seribu rebana dan nada dakwah mayangkara. Saya hadir di majelis itu, alhamdulillah perasaan tenang dan damai muncul seiring syair-syair berkumandang dan mengalun dengan merdunya. Sholawat itu sedikit demi sedikit dapat menghancurkan bangunan emosi yg menjulang tinggi itu. Memang benar suasana hati itu tercipta dan mahal harganya maka, salah satu obat untuk meredamnya adalah dengan menghadiri majelis sholawat. Maka pantas saja setiap majelis aholawat yg sering saya ikuti tak pernah sepi dari jamaah. Pasti jumlagnya membludak.
Lalu apa korelasi rujak dan sholawat.hehe Tidak ada. itu hanya judul saja.
Inti sederhananya adalah rujak dan sholawat itu hanya salah satu metode saja agar kita dapat selalu belajar dari apa yg kita alami dalam keseharian. Karena orang tidak tau jika dalam kesederhanaan ada sesuatu keluarbiasaan.
Selamat Merenung..
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...