Langsung ke konten utama
Acara dari Langit
..
Bang Woks
Kata orang jawa saya sudah menangi acara GEBYAR sudah tiga kali, terhitung sejak tahun 2016 sampai dengan 2018. Namun di tahun ini dalam acara Gebyar tersebut saya hanya menjadi pemirsa yang budiman, yang hanya bisa memantau lewat layar hp dengan bantuan jantung hotspot teman. Tapi tak mengapa, yang penting bisa melihat wajah senyum kamu, saya sudah teramat senang. Maksudnya senyum para peserta (anak yatim, bukan panitianya wkwkw). Berbuka bersama, tersenyum, mendapat ilmu dan gembira dalam hanyunya arus permainan yang asyik.
GEBYAR atau kepanjangan dari (Gerakan Bhakti Yatim Ramadhan) ini selalu istiqomah di laksanakan setiap tahun sebagai perwujudan rasa syukur dan terimakasih atas segala yang Allah swt berikan kepada khususnya mahasiswa BidikMisi yang memang telah pemerintah amanahkan berupa dana penunjang pendidikan. Orang jawa selalu berpesan "kui kudu mulang nrimo", yaitu ungkapan luhur tentang kembali kasih. Sehingga kita dapat belajar bahwa sejatinya hidup dan kehidupan ini muaranya adalah "i love you and thank you".
Bekerjasama dengan teman-teman dari ABDA acara ini selalu menyuguhkan FORMASI yang berbeda tentunya. Dan memang itu yang di harapkan, sehingga dari acara ini selain tujuan utamanya adalah mengisi ramadhan dengan saling berbagi, juga dari sisi yang lain akan memunculkan daya kreatif dan rasa empati terhadap sesama. Rasanya saya tidak muluk-muluk menyebut acara ini sebagai acara dari langit. Bagi orang yang tidak paham akan arti berbagi dan berterimakasih atau jiwa altruis acara derma terhadap anak yatim dan sejenisnya merupakan acara yang melangit, besar, tinggi, jauh, berat dan susah, padahal jika di pahami lebih jauh akan nampak indah bahwa acara tersebut indah, dekat dan membumi. Artinya berbagi rasa, cerita dan cinta itu tidak harus mahal, sehingga tolok ukur yang pertama adalah sejauh mana NIAT dan USAHA kita terpatri dalam hati untuk saling berbagi.
Semoga acara ini akan terus lestari. Bolehlah saya berimajinasi sedikit. Jika saya berada di acara tersebut saya akan tanya kepada peserta. Gebyar tahun kemarin bagaimana yel-yelnya?, semua terdiam. "alhamdulillah berkah meriah". Lalu Gebyar tahun sekarang bagaimana yel-yelnya?, semuapun terdiam lagi, hingga saya jawab "alhamdulillah ada lagi..yeeee". Dan Gebyar tahun depan bagaimana yel-yelnya?, suasana pun mulai kriik kriik dan saya jawab "insyaallah harus ada lagi wkwkw" semuapun bertepuk tangan.
Semoga acara ini selalu menata, menguatkan, merangkul, gandeng, "kasih tiada henti, sayang tiada batas". Barakallah
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...