Langsung ke konten utama
Menggaungkan Budaya Menulis
..
Bang_Woks
Sejak fase imut-imut hingga amit-amit si penulis status ini merasa bahwa menulis itu memang benar-benar penting, sepenting mengabadikan jejak pada peta yang selalu di bawa anak Pramuka di kala mencari harta karun di tengah hutan. Walaupun hanya sebatas menulis status, jejak penulis menyukai budaya tulas tulis tidak dengan proses yang ringan, melainkan melalui proses yang benar-benar berat lagi rumit. Sehingga jangankan si penulis mau berperang di medan laga melawan musuh, melawan emosi dan kemalasan diri saja, saya kalah.
Termotivasi untuk belajar menulis adalah ketika membaca bahwa di kampus dakwah dan peradaban memiliki seseorang yang tiap hari seperti menjadi topik rasan-rasan akademik, ya beliau adalah Dr Ngainun Naim. Orang yang selalu menjadi tokoh idola bagi para penulis pemula dan lanjutan, orang yang namanya selalu menghiasi banyaknya sampul buku, mulai dari buku ringan ala dokumentasi sehari-hari hingga buku pemikiran ilmiah nan berbobot. Rasanya kenyang saya mendengar beliau. Bahkan ada yang mentasbihkan dirinya sebagai #Naimisme. Pada saat itu pula saya di ceritakan sedikit mengenai perjalanan literasi beliau, hingga sampailah pada nama almaghfurllah pak Hernowo Hasyim, dan beliau merupakan senior Dr Naim dalam berliterasi, rasanya seantero negri kenal dengan beliau, walaupun melalui rangkaian karyanya.
Jika demikian yang terjadi maka saya memotivasi diri sendiri untuk menulis dengan hastage yang berbunyi #Menulislah, #Lagi_lagi_menulis dan #Menulis_terus.
Menulislah tentunya sebuah proses yang terjadi dari proses membaca, terlepas dari membaca alam, fenomena, proses menghayati sesuatu, atau membaca buku itu sendiri, maka setelah itulah proses menulis terjadi. Kata pak Hernowo tertulis istilah "mengikat makna". Imam Ali bin Abi Thalib juga pernah berpesan bahwa "ilmu itu layaknya kuda liar dan cara untuk mengikatnya dengan cara di tulis".
Jika kita sadar pula bahwa, budaya menulis adalah budaya kenabian (prophetic) setelah di perintahkanya iqra'.
Lagi-lagi menulis, memang begitulah kiranya yang sejatinya harus terjadi. Rasanya muhal jika dalam berproses di dunia akademik, para mahasiswa elergi dan menghindari budaya menulis ini, karena pada akhirnya sejak awalpun yang di suguhi adalah pelatihan menulis dan kita tidak akan pernah jauh dari budaya itu. Walaupun kita tidak berkenan menggelutinya karya tulis tetap harus menjadi beban tanggungan yang harus kita kuasai seperti makalah dan sebagainya. Mohon maaf kata Dr Naim, babu saja menulis, masa kita (yang sekolah) tidak.
Terakhir adalah menulis terus, artinya bahwa bukan hanya sekedar menulis yang tidak berkesudahan, melainkan sebuah pesan bahwa menimba ilmu tiada batas "minal mahdi illal lahdi" dari buaian hingga liang lahat. Maka dari itu betapa pentingnya budaya ini untuk terus di lestarikan. Walaupun di masa depan kita akan merasakan budaya yang semakin digital dan ada prediksi yang mengatakan bahwa nanti orang-orang akan semakin terlena dengan alat teknologinya, hingga sedikit-demi sedikit budaya menulis akan tergerus erosi zaman. Padahal menulis adalah seni mengikat makna dalam pikiran. Jika pikiran sudah terwakili oleh rangkaian media sosial, lalu apa pula gunanya pikiran berfungsi sebagai pengupaya, kehendak dan berkreativitas, rasanya miris sekali di dunia nyata kalah oleh dunia maya.
Hingga saya kutip pesan pak Hernowo bahwa dalam pikiran kita itu terdapat quantum alias energi cahaya yang dahsyat, yang semua itu di interaksikan melalui membaca dan menulis. Maka hal itu merupakan sebuah bentuk pembelajaran yang freedom, tiada batas. Selamat mencoba, selamat menuju kebermanfaatan melalui mengikat makna.
Salam Literasi
#Salam_budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...