Manajemen Alumni
..
Bang Woks
Sekolah selain sebagai tempat menimba ilmu, juga sebagai tempat mendidik dan melahirkan beberapa kader dan alumninya. Sehingga sekolah sebagai sebuah lembaga formal telah melahirkan beberapa alumninya dari generasi ke generasi, yang mungkin hingga kini telah menyebar kemana saja mereka pergi.
Manajemen alumni bukan sebuah mata pelajaran atau mata kuliah, melainkan sebuah upaya, strategi, memenej, mewadahi, mengelola atau dalam bahasa chef adalah meramu dan meracik agar mereka para alumni memiliki peran dan fungsinya di luar kegiatan formal sekolah yang berlangsung.
Kini seharusnya setiap sekolah harus memiliki bagan terstruktur yang khusus mewadahi peran almumninya. Agar mereka tidak malu untuk ketika datang kembali ke almamaternya dulu. Sehingga kaderisasi alumni rasanya amat penting di lakukan sejak masa sekolah berlangsung.
Ketika fungsi dan peranan alumni benar-benar berjalan, maka tak aral jika setiap almamaternya itu memiliki sebuah acara alumni tersebut merasa memiliki, bahkan siap untuk membantu menyukseskan acara tersebut. Entah berpartisipasi berupa dukungan moril maupun materil.
Ada fungsi yang lebih penting dari itu, yaitu masih terus dapat menyambung tali silaturrahmi dan ta'lim yang mana ajaran tersebut merupakan titah agama sepanjang hayat.
Berbeda dengan di pondok pesantren, para alumni dengan sepenuh kesadaran hati ingin selalu sambung dengan almamaternya dulu. Karena salah satu faktornya selain mereka telah di bekali ilmu disana juga mereka mengenal sosok kyai yang memang kharismatik dan telah mengubah pandangan mereka. Akan tetapi jika basisnya sekolah biasa, perlu penekanan dan pengertianya sejak dini, sehingga mereka timbul akan rasa kesadaran.
Jika kesadaran itu benar-benar telah tumbuh maka tak akan mustahil almamaternya itu akan berkembang dan maju. Banyak sekali contoh lembaga pendidikan sekolah maupun pesantren yang telah maju karena dukungan penuh dari alumninya. Kebaliknya, tidak sedikit pula ada alumninya yang hilang kontak dengan almaternya dulu. Sehingga rasa dari kesadaran itu sendiri begitu amat sangat mahal, sehingga hanya beberapa orang sajalah yang mampu memilikinya. Jangan sampai pula pepatah lama berkata "jangan sampai ada kacang lupa akan kulitnya".
Rata-rata jika di tanya permasalahanya adalah klasik yaitu malu dan sibuk. Sehingga lagi-lagi waktulah yang selalu menjadi kambing hitam dalam terkaman srigala niat yang selalu menghantui. Andai saja keduanya dapat di beli, pastilah uang akan mampu menjawabnya. Tapi sebuah kesempatan emas lagi langka tak akan bisa di beli dengan apapun, kecuali dengan kesadaran lagi panggilan jiwa bernama, ikhlas dan terimakasih.
Harapan terbesar jika manajemen alumni benar-benar di jalankan tentu dapat melahirkan kader alumni yang militan lagi loyalitas. Walaupun memang tidak semua, tapi percayalah satu permata dengan ribuan batu koral maka akan tampak mengkilau satu permata itu. Sehingga rasa bangga akan merasuk kedalam jiwa, bahwa kita dulu adalah siswa yang di lahirkan dari sana. Pepatah jawa berpesan "OJO LEREN DADI WONG APIK".
#Salam_Budaya
..
Bang Woks
Sekolah selain sebagai tempat menimba ilmu, juga sebagai tempat mendidik dan melahirkan beberapa kader dan alumninya. Sehingga sekolah sebagai sebuah lembaga formal telah melahirkan beberapa alumninya dari generasi ke generasi, yang mungkin hingga kini telah menyebar kemana saja mereka pergi.
Manajemen alumni bukan sebuah mata pelajaran atau mata kuliah, melainkan sebuah upaya, strategi, memenej, mewadahi, mengelola atau dalam bahasa chef adalah meramu dan meracik agar mereka para alumni memiliki peran dan fungsinya di luar kegiatan formal sekolah yang berlangsung.
Kini seharusnya setiap sekolah harus memiliki bagan terstruktur yang khusus mewadahi peran almumninya. Agar mereka tidak malu untuk ketika datang kembali ke almamaternya dulu. Sehingga kaderisasi alumni rasanya amat penting di lakukan sejak masa sekolah berlangsung.
Ketika fungsi dan peranan alumni benar-benar berjalan, maka tak aral jika setiap almamaternya itu memiliki sebuah acara alumni tersebut merasa memiliki, bahkan siap untuk membantu menyukseskan acara tersebut. Entah berpartisipasi berupa dukungan moril maupun materil.
Ada fungsi yang lebih penting dari itu, yaitu masih terus dapat menyambung tali silaturrahmi dan ta'lim yang mana ajaran tersebut merupakan titah agama sepanjang hayat.
Berbeda dengan di pondok pesantren, para alumni dengan sepenuh kesadaran hati ingin selalu sambung dengan almamaternya dulu. Karena salah satu faktornya selain mereka telah di bekali ilmu disana juga mereka mengenal sosok kyai yang memang kharismatik dan telah mengubah pandangan mereka. Akan tetapi jika basisnya sekolah biasa, perlu penekanan dan pengertianya sejak dini, sehingga mereka timbul akan rasa kesadaran.
Jika kesadaran itu benar-benar telah tumbuh maka tak akan mustahil almamaternya itu akan berkembang dan maju. Banyak sekali contoh lembaga pendidikan sekolah maupun pesantren yang telah maju karena dukungan penuh dari alumninya. Kebaliknya, tidak sedikit pula ada alumninya yang hilang kontak dengan almaternya dulu. Sehingga rasa dari kesadaran itu sendiri begitu amat sangat mahal, sehingga hanya beberapa orang sajalah yang mampu memilikinya. Jangan sampai pula pepatah lama berkata "jangan sampai ada kacang lupa akan kulitnya".
Rata-rata jika di tanya permasalahanya adalah klasik yaitu malu dan sibuk. Sehingga lagi-lagi waktulah yang selalu menjadi kambing hitam dalam terkaman srigala niat yang selalu menghantui. Andai saja keduanya dapat di beli, pastilah uang akan mampu menjawabnya. Tapi sebuah kesempatan emas lagi langka tak akan bisa di beli dengan apapun, kecuali dengan kesadaran lagi panggilan jiwa bernama, ikhlas dan terimakasih.
Harapan terbesar jika manajemen alumni benar-benar di jalankan tentu dapat melahirkan kader alumni yang militan lagi loyalitas. Walaupun memang tidak semua, tapi percayalah satu permata dengan ribuan batu koral maka akan tampak mengkilau satu permata itu. Sehingga rasa bangga akan merasuk kedalam jiwa, bahwa kita dulu adalah siswa yang di lahirkan dari sana. Pepatah jawa berpesan "OJO LEREN DADI WONG APIK".
#Salam_Budaya
Komentar
Posting Komentar