Langsung ke konten utama
Sufi Rumahan
..
Bang Woks
Tulisan sederhana ini akan aku dedikasikan buat Kartini ku di rumah. Seseorang yang mulia perangainya, walau kadang aku kena marahnya di kala aku tidak menurutinya ketika minum obat atau ngeyel ketika tak mau berangkat mengaji. Orang yang tidak pernah kenal lelah dalam mengurusi segala hal, walaupun selepas dari sawah sekalipun. Orang yang selalu ikhlas menjadi madrasatul ula untuk pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan beliau adalah orang yang memiliki karomah yang do'a nya ampuh mengalahkan 1000 wali qutub. Sehingga jangan pernah di abaikan bahwa sekarang orang rela berziarah ke negeri yang jauh disana sedangkan walinya di rumah tak pernah ia ziarahi. "Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi sukhtil walidain", termasuk kartini mu.
..
Aku jadi ingat kata Syeikhul Akbar Ibnu Arabi yang pernah menasehati muridnya begini, jika mereka hendak mencapai puncak kedekatan diri kepada Tuhan maka kalian terlebih dahulu harus menjadi 'perempuan'. Begitulah pesan beliau yang menurut pemahamanku sendiri, sampai kapan pun perempuan akan relevan sebagai seorang kartini di manapun. Ingat bahwa makna dari kartini itu sendiri bukan hanya sekedar nama, akan tetapi menjadi sebuah sifat dan simbol bahwa wanita adalah mereka yang juga dapat di jadikan inspirasi oleh siapa saja. Terutama bagi mereka yang mau menapaki jejakNya.
Bagi kaum sufi seorang laki-laki dan perempuan tidak boleh saling menjatuhkan, karena selain sisi takwanya yang membedakan di mata Tuhan ada hal lain yang bisa membuatnya belajar dan lebih menghayati pemberianya yang agung. Utamanya soal bagaimana menjadi seorang abid yang ikhlas.
..
Sisi feminim dan maskulin pun kadang di antara keduanya akan saling terwarisi, namun terkadang lebih dominan yang mana yang sering muncul, sehingga disinilah letak perbedaan laki-laki dan perempuan, padahal aslinya memiliki banyak kesamaan. Sampai-sampai aku harus bisa belajar dengan kartini ku, dimana lir ibarat beliau itu seperti sebuah kekuatan yang telah menghimpun segala realitas yang ada. Sehingga ia bisa di katakan sebagi sebuah hal yang telah menghimpun seluruh kekuatan kosmos. Begitulah Allah memuliakan beliau. Maka di balik kelemahanya justru disanalah letak kekuatanya. Kelemahanya adalah kelebihanya.
..
Dalam hal spiritual sekalipun beliau adalah sosok yang luar biasa, yang lagi-lagi sulit rasanya kaum adam bisa mengikuti jejaknya. Bayangkan saja, di tengah kesibukanya dan kelelahanya beliau masih sempat bermunajat, sempat menghimpun energi spiritual demi mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga darinya inspirasi terjadi yang biasa di sebut the saint lover (pen cinta sejati). Walaupun beliau mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, merawat anak, melayani suami ternyata beliau anggap semua itu sebagai sebuah perenungan, rasa syukur, sebuah training menuju Illahi rabbi. Senada dengan itu Prof Nasaruddin Umar juga mengemukakan bahwa spiritual training itu menjadikanya seorang yang pasrah, lembut dan feminim.
..
Berbangga dan berbahagialah kamu sekalian yang masih memiliki kartini mu di rumah. Begitu pula dengan diriku. Sehingga jika kita sadar bahwa sudah berapa banyak film dan kisah yang telah memerankan rekam jejak perjuangan beliau, agar kita sadar bahwa beliau adalah emas mutiara yang berharga ketika kita telah benar- benar kehilanganya. Atau sudah berapa banyak jumlah anak-anak yang telah sukses karena wasilah do'a dan keridhoanya yang selalu maqbul dan ijabah.
..
Kartini ku senyumu adalah salah satu alasan mengapa aku bisa bertahan sejauh ini. Aku ingin sekali bisa menghabiskan masa muda ku dan di sisa umur ku agar selalu menjalankan nasihatmu yang sejuk itu. Agar aku tahu bahwa menjadi diri mu adalah hal-hal yang selalu aku perjuangkan. Termasuk mempersiapkan bekal menuju sangkan paraning dumadi. Kau adalah bentuk rahman rahim Tuhan di muka bumi.
..
Beliau adalah kartini ku dan beliau adalah Ibu pertiwi ku. Jasamu tak akan hilang di makan waktu. Sehat terus ibu ku, do'a ku ada di antara senyum manismu ketika kau belai setiap helai rambut di kepalaku.
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...