Langsung ke konten utama
Falsafah Kecebur Empang
..
Bang Woks
Dalam bahasa Sunda empang berarti kolam atau tempat penampungan. Biasanya berisi ikan atau bahkan ikan yang di beri makan kotoran manusia. Fungsi lain dari empang yaitu sebagai tempat merendam kayu agar kuat dan tidak mudah rapuh di makan rayap. Orang jawa biasanya menyebutnya kolah. Bahkan empang telah menginspirasi Kang Nono Trondol untuk menciptakan lagu berjudul "juragan empang", dan lagu itu booming ketika pertama kali di nyanyikan oleh istrinya sendiri, Tiny Josepah. Dan lagu tersebut mengacu pada empang yang berisi ikan bandeng, bukan zat T 41. hehe
..
Bukan tentang lagu di atas yang akan saya bahas, melainkan makna yang mendalam dari kecebur empang itu sendiri.
Suatu hari teteh (mba) saya pernah mengalami peristiwa memilukan, sekitar tahun 1999 pada saat itu saya masih berusia belia. Sungguh tragis kejadianya dimana teteh saya itu masih zaman nakal-nakalnya, tidak nurut orang tua, bahwa anak gadis itu tidak boleh naik (srekelan) ke atas pohon, nanti khawatir jatuh, hingga apa yang di ucapkan budhe saya benar terjadi. Teteh saya terjatuh ke empang yang berisi kotoran manusia, di tambah lagi tersengat kemarang (tawon) dari ranting pohon yang menjatuhinya itu. Duuhh duhh.. sudah jatuh tertimpa duren, tertimpa tangga pula. Tidak kebayang betapa mirisnya. Wajahnya di penuhi zat kuning berbau itu, disisi lain telinganya besar sebelah karena tersuntik jarum alami tawon. Basah kuyup dan berlinang air mata, begitulah drama yang terjadi. Anda pernah merasakan hal demikian? atau mau seperti itu. Jika ia hubungi saja penulis, nanti akan saya kasih tutorialnya. hehe
..
Ada juga seorang gadis teman baru saya yang katanya ia pernah mengalami hal yang sama, walaupun empang itu bernama Sriwangi sekalipun. Bau ya tetap bau bahkan menjijikan. Namun ia memiliki argumen lain selepas dari peristiwa itu katanya "biar pernah tersiksa dulu. Lalu, dipancing-pancing sampai terpancing untuk melihat keberhasilan yang diikhtiyari oleh jatuhan (meski sampai masuk empang pun tak apa). Semakin menjijikan, semakin tinggi kualitas keberhasilan".
.. 🤣
Sebenarnya dari kecebur empang itu banyak inspirasi yang kita dapatkan seperti halnya, peribahasa sudah basah kepalang basah, ya basah sekalian. Dari peribahasa tersebut sebenarnya mengandung makna dualitas dimana bisa bermakna positif atau negatif, namun jika keduanya dalam tekanan yang bersifat di paksakan akan mengakibatkan chaos. Sesuatu kebaikan sekalipun jika di paksakan maka akan bernilai buruk. Tidak ada paksaan dalam hal apapun, sekalipun itu perihal memilih agama.
..
Kebalikan dari hal yang terjadi dari kecebur empang ialah rasa pasrah, nrima atau bahkan buta. Buta bisa berarti cinta. Kebutaan akan mengahalangi semua, kecuali satu hal yang ia yakini kebenaranya. Seperti hal nya tauhid, ibarat memandang matahari, semakin kau pandangi, semakin buta matamu. Begitulah cinta. Sekalipun ia tercebur dalam empang jika ia cinta dengan air alias renang, makin senanglah ia.
Tapi jika di tinjau dalam term pertaubatan sekalipun seseorang sudah bermandikan lumpur kenistaan (selain musyrik) selagi ia mau bertaubat, tentu pintu taubat Tuhan akan membukakanya seluas-luasnya.
..
Empang adalah tempat yang luas ketiga setelah laut dan kali (sungai) sehingga manusia di tuntut menggunakan akal fikiranya untuk terus belajar dan menghayati setiap gerak gerik kosmos ini. Alam telah menjadi ruang kelas yang luas agar manusia sadar bahwa dirinya telah di anugerahkan Tuhan untuk berperilaku bijak dalam hidup. Untuk melihat dalamnya empang kita perlu kesana, merasakan dan mengenalnya bukan hanya sekedar mengetahui. Sehingga dalam term sufi terkenal ('arafa rabbahu) bukan ('alima rabbahu).
Sungguh empang telah mengajarkan saya arti yang sangat mendalam mengenai hidup. Sekarang yang harus menjadi perenungan adalah penghayatan apa yang ada dalam empang, Ikan, air, luas, volume, warna, lumut, makanan atau bahkan zat T 41 yang selalu mengiringinya.
Selamat mencebur ..ups merenung maksudnya. hehe
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...