Langsung ke konten utama
SEGAWON
..
Bang Woks
Jika bagi orang jowo membaca judul di atas tentu sudah tidak asing lagi di telinga, namun bagi orang di luar wong jowo tentunya akan berfikir dan menerka, atau jika tidak tanya maka akan mencarinya di kamus. Ya memang terlepas dari arti dari berbagai bahasa pula, pasti semuanya akan memiliki bahasa khusus untuk menyebut anjing. Ya, judul di atas berarti anjing. Dalam bahasa Inggris di kenal dog, Arab kalb كلب, Madura di kenal patek, dan masih banyak daerah lainya dalam menyebut kata anjing.
..
Selain nama-nama di atas, orang jowo juga sering menyebut anjing sebagai kirik atau asu. Hal itu sering di ungkapkan dalam bingkai kata (misuh) atau umpatan. Ngomong-ngomong soal misuh, tentu pisuhan soal anjing yang sangat lucu adalah gaya dari orang Sunda. Mereka jika berkata anjing maka lafalnya akan berubah menjadi anying, sehingga orang yang mendengarnya cenderung tertawa. Dalam tradisi Sunda memang kata anjing (anying) akan memiliki variasi arti tersendiri seperti, "anying teh sia" (dasar anjing kamu) dalam kata pisuhan, tapi dapat juga berarti ungkapan yang menandakan kesan yang mendalam (proud you), "wuiih si anying maneh, geuning juara oge" (wuiih keren kamu, akhirnya juara juga) dan masih banyak arti lainya. Berkaitan dengan kata pisuhan itu makanya orang jowo membuat kosa kata dalam krama inggil (bahasa halus paling tinggi) yaitu segawon untuk menyebut anjing, karena ungkapan tersebut di cipta sebagai sebuah unggah-ungguh. Maka dari itu jika orang jowo misuh dengan kata segawon akan terkesan tidak jadi misuh. Sehingga dalam hal fenomenologi ini biasa di sebut sebagai psikologi indegeneous (pendekatan kebudayaan). Atau juga etnografi linguistik.
..
Orang jowo sering memberi nasehat "ajining diri saka lathi, yang mengandung makna bahwa seseorang dapat dihargai itu berdasarkan ucapannya atau lidahnya. Maka pantaslah jika orang jowo mencoba menggunakan kata yang paling halus dalam setiap komunikasinya, agar orang yang di ajak bicara tidak tersinggung dan sakit hati. Disinilah terutama ajaran Islam yang memberikan pesan agar pandai-pandai menjaga lisan. Karena lidah itu tajamnya ibarat pedang, bisa menyayat siapa saja.
..
Terlepas dari keharaman dan najisnya anjing, tentu sekarang kita pahami dari perspektif yang lain. Karena masyarakat sudah terlalu tercebur dalam lumpur konstruk pemahaman yang kaku mengenai hewan bernama anjing itu. Padahal Allah swt menciptakan hewan yang satu itu agar dapat menjadi i'tibar untuk manusia. Cerita keseharian kita pun tidak terlepas dari hewan bernama anjing, mulai dari legenda si Tumang hingga anjing yang menolong pemuda ashabul kahfi dari kejaran raja Dikyanus (Dexcious) yang lalim. Ada lagi yaitu anjing yang mencoba memberi pelajaran kepada seorang yang terlihat alim namun ternyata ia juga tidak bisa mengontrol emosinya yang meluap-luap atau kisah Ibu Hesti, seorang perempuan bercadar yang memelihara 11 ekor anjing liar dan beberapa ekor kucing. Dan masih banyak lagi kisah lainya.
..
Yang menjadi pertanyaan kini adalah, mengapa harus anjing?, yang menurut kebanyakan orang adalah hewan najis yang kotor. Hingga, apakah ada anjing yang suci, atau jangan-jangan manusia ini juga anjing yang berfikir, begitulah ungkap mas Triyanto. Mungkin tanpa alasan, pastinya dari seekor anjinglah kita dapat mengambil hikmahnya.
Anjing dalam pemahaman Syeikh Muhammad Nawasi al Jawi, (penulis kitab Syahru Kaasyifatus Sajaa' alaa Safinatin Najaa fii Ushuulid Diini wal Fiqhi), memiliki 10 keteladanan. Ia ternyata gemar mengosongkan perut, sedikit tidur malam, tak hengkang dari pintu rumah tuanya, pantang menunggalkan warisan setelah mati atau zuhud, puas menempati bumi yang hina, dan kemaruk dan hanya melahap makanan yang di berikan sang majikan, tak maram dan mendendam, rela menyingkir jika tempatnya di pakai mahluk lain, memakan lahap segala yang di berikan kepadanya dan kemana pun tak pernah membawa bekal. (Triyanto, 2016:215).
Begitulah Allah swt memberikan keistimewaanya kepada seekor anjing yang katanya hina. Semoga "kita tidak lebih anjing daripada anjing".
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...