Langsung ke konten utama
Ekspedisi Haul Akbar Kedinding 2018
..
Bang Woks
"Kesan pertama akan mempengaruhi kesan selanjutnya. Kesan pertama begitu menggoda".
Mejelis dzikir wa maulidurrasul, begitulah acara yang telah aku lalui beberapa waktu yang lalu bersama kawan-kawan mahasiswa al Khidmah kampus. Berangkat sejak pagi buta selepas shubuh menuju kota Pahlawan tepatnya di daerah Kedinding Lor. Suatu tempat yang berdekatan dengan Wisata Religi Sunan Ampel dan beberapa kilo meter saja menuju jembatan Suramadu. Disanalah berdiri bangunan megah bernama pondok pesantren al Fitrah. Dan tentunya tujuan utamanya adalah menghadiri haul akbar Hadratus Syeikh KH Ahmad Asrori al Ishaqi RA. Seorang ulama, kyai, mursyid sekaligus guru yang penuh dengan kharisma yang tentunya membuat siapa saja tergugah hatinya, untuk selalu mengikuti petuah-petuahnya, yang sejuk dan menyejukan. Walaupun beliau telah tiada, akan tetapi ruh dan ajaranya yang di wariskanya akan selalu lestari di hati pecintanya.
..
Perlu 6 semester atau sekitar 2,5 tahun untuk dapat kesana. Begitulah lamanya aku bisa menuju kesana. Padahal jika pun mau hari ini juga bisa, namun itulah yang di sebut jodoh dalam kesempatan dan kesempatan dalam balutan niat yang di iringi takdir. Masyallah seperti layaknya panggilan agung pada jamaah haji. Begitulah aku dan perasaanku. Tapi memang hanya dengan panggilan nuaranilah sebuah hati akan tentram, seperti ada yang menuntun menuju ke majelis tersebut. Sebuah majelis yang di hadiri oleh ribuan ummat dari penjuru negeri bahkan dari luar negeri sekalipun. Semua memutih bersama dengan makna simbol kesucian pada pakaian yang mereka kenakan dalam majelis tersebut. Hingga mereka pun mewangi bersama rangkaian melati dan sedap malam.
..
Bagiku bisa menghadiri acara tersebut merupakan nikmat yang tak terhingga besarnya. Bahkan hampir tak bisa ku lukiskan dengan serangkaian kata. Hingga aku hanya bisa hening dalam diam, menangis dalam kesendirian dan pura-pura tertawa dalam keriuhan.
Sejak satu hari sebelum acara di mulai jamaah yang ribuan itu sudah gegap gempita memadati area maktab yang telah di sediakan panitia. Tidak lupa pula curahan berkah dari acara telah membawa keberkahan tersendiri bagi warga sekitar dan para pedagang yang umumnya berasal dari tanah madura.
..
Hingga tiba saat acara di mana lantunan dzikir dan shalawat tidak henti-hentinya di lantunkan jamaah sejak malam hari hingga acara puncak pada pagi hari. Pembacaan manaqib Sulthonul auliya Sayyidina Syeikh Abdul Qadir al Jaelani ra juga terus bergema. Hingga untuk menuju ke arena utama pun aku tak berdaya. Harus berebut tempat barang kali beberapa petak saja. Tak lupa pula aku harus berjibaku dengan jamaah dalam arus pusaran jamaah yang datang hilir mudik silih berganti, demi mendapat tempat yang teristimewa. Lir ibarat seperti thawaf pada ibadah haji, Labaikallah humma labaik.
..
Beberapa peristiwa pun terjadi di sana seperti adanya jamaah yang wafat saat dimana majelis sedang berlangsung, dan pada saat itu pula ia di shalati oleh banyaknya jamaah.
Majelis itu pun makin berkah karena di hadiri beberapa ulama besar salah satunya ialah al Habib Umar bin Abdul Hadi al Jaelani, beliau merupakan dzuriyyah Syeikh Abdul Qadir al Jaelani yang datang dari Makkah al Mukarromah.
Pesan yang utama yang aku ingat sebelum meninggalkan acara adalah salah satu tulisan yang pertama kali menyambut kami yaitu, "berdzikir merupakan puncak dari segala kebaikan, bagi manusia & berkumpulnya merupakan syiar yang paling besar dalam Islam". Begitulah sebuah acara yang mengajak jamaahnya agar selalu eling lan waspada, mengingat Allah dimanapun kita berada. Ingat dunia ingat pula sangu apa yang akan kita bawa menuju hari akhirat kelak.
Semoga Allah swt memberkahi kita semua dan meridhoi orang-orang yang ada di dalamnya. Semua itu tersimbol mulai dari acara awal hingga acara talaman.
..
Semoga esok hari aku dapat berjumpa dengan majelis yang mulia itu dalam keadaan yang paling bahagia. Hingga kami pun pergi meninggalkan Surabaya dengan rangkaian gerbong sepur yang penuh cinta. Walau kadang aku ke pancalnya. hehe
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...