Menertawakan Diri Sendiri
..
Bang Woks
Dunia ini mudah sekali berubah, penyebab perubahan dunia tidak menunggu lama, bahkan hanya hitungan detik saja. Begitulah keadaan dunia sekarang, secepat kilat menerobos batas, hingga untuk melihat kilat pun tak usah berharap berjumpa dengan hujan. Dengan teknologi semua informasi mudah di dapat, oleh pendengaran di bawa melalui transmisi penglihatan, terserap dalam ruang-ruang pikiran dan meresap melalui transistor hati dan tindakan. Nah sayangnya kabel transistor pada nurani itu sering mengalami error sehingga fungsi filtrasi sebagai penyaring yang menjernihkan tidak berfungsi sempurna. Maka terjadilah pemahaman yang parsial atau bahkan pemahaman yang radikal.
..
Melihat langit Indonesia kini rasanya menyedihkan dan menyisakan urat sembilu, faktanya hal tersebut sedang dalam zona yang membuat kita selalu di bumbui rasa cemas dan ketakutan. BOM meledak dimana-mana, begitulah judul yang sedang di kupas dimana-mana sebagai awan berkabut tebal di sekitar Surabaya. Hal itu terjadi lagi dan entah sepertinya tak berkesudahan. Mati satu tumbuh seribu, satu DNA hilang ribuan lainya menyebar kepermukaan. Jika kita benar-benar mampu memahami kondisi dan kejadian yang sesungguhnya terkait mind radical people, maka secara naluriyah kita ingin menertawakan diri sendiri.
..
Betapa sempitnya pemikiran itu, padahal Tuhan memberikan anugerah akal tersebut sebagai sebuah jalan yang menghantarkan ke jalan yang benar, bukan penyimpangan. Mungkin saja benar bahwa orang yang demikian itu belum bisa menjadi laut kebijaksanaan, dimana ribuan anak sungai bermuara kepadanya. Atau satu kitab, satu Tuhan, namun berbeda penafsiran. Begitulah kiranya problematika dunia sekarang ini. Tapi yakinkanlah bahwa mereka juga adalah bagian dari korban doktrin cuci otak yang menyesatkan.
..
Dengan mata haru Dalai Lama menasehati kita "jika Tuhan adalah dzat yang memerintahkan manusia melakukan kekerasan BOM sungguh dia bukan Tuhan yang layak di sembah", apalagi beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan suci ramadhan, bulan yang di tunggu-tunggu oleh umat seluruh dunia. Karena bagi sebagian orang Bakdan adalah bagi siapa saja, tidak hanya bagi umat Islam saja. Hingga bakdan bisa di maknai sebagai praktek dari rahmatan lil alamin yang menyejukan dan saling memaafkan.
..
Maka dari itu marilah kita menjadi cermin diri sendiri, sudahkah kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak. Dari pada anggapan-anggapan yang kita layangkan tiap hari tidak tepat sasaran, lebih baik introspeksi diri. Jika pun diri kita merasa baik, tentunya kebaikan tidak tidak layak kita paparkan kepada orang lain, sebab orang lain tidak membutuhkan itu. Saling menghormati dan menghargai sangat di butuhkan dalam kehidupan yang bhinneka ini, maka rasanya tak pantas dalam penghayatan yang esoteris, ramadhan hanya sebagai bualan belaka. Justru moment ini harusnya menjadi momen training dan momen yang memperteguh persatuan.
..
Kita bukan manusia infotainmen, tapi kita adalah manusia yang mencoba berkontemplasi, menghayati diri, betapa banyak dosalah kita. Hikmah dan hidayah bak bulu yang beterbangan, tercecer dimana-mana, sekarang kita lah yang mau memungutnya atau tidak?
Maka dari itulah tertawakanlah diri ini yang tentunya masih mencoba untuk menjadi manusia yang baik, tentunya di mata manusia dan lebih lagi di mata Tuhan.
"Marhaban ya ramadhan, marhaban ya syahru maghfirah".
#Salam_Budaya
..
Bang Woks
Dunia ini mudah sekali berubah, penyebab perubahan dunia tidak menunggu lama, bahkan hanya hitungan detik saja. Begitulah keadaan dunia sekarang, secepat kilat menerobos batas, hingga untuk melihat kilat pun tak usah berharap berjumpa dengan hujan. Dengan teknologi semua informasi mudah di dapat, oleh pendengaran di bawa melalui transmisi penglihatan, terserap dalam ruang-ruang pikiran dan meresap melalui transistor hati dan tindakan. Nah sayangnya kabel transistor pada nurani itu sering mengalami error sehingga fungsi filtrasi sebagai penyaring yang menjernihkan tidak berfungsi sempurna. Maka terjadilah pemahaman yang parsial atau bahkan pemahaman yang radikal.
..
Melihat langit Indonesia kini rasanya menyedihkan dan menyisakan urat sembilu, faktanya hal tersebut sedang dalam zona yang membuat kita selalu di bumbui rasa cemas dan ketakutan. BOM meledak dimana-mana, begitulah judul yang sedang di kupas dimana-mana sebagai awan berkabut tebal di sekitar Surabaya. Hal itu terjadi lagi dan entah sepertinya tak berkesudahan. Mati satu tumbuh seribu, satu DNA hilang ribuan lainya menyebar kepermukaan. Jika kita benar-benar mampu memahami kondisi dan kejadian yang sesungguhnya terkait mind radical people, maka secara naluriyah kita ingin menertawakan diri sendiri.
..
Betapa sempitnya pemikiran itu, padahal Tuhan memberikan anugerah akal tersebut sebagai sebuah jalan yang menghantarkan ke jalan yang benar, bukan penyimpangan. Mungkin saja benar bahwa orang yang demikian itu belum bisa menjadi laut kebijaksanaan, dimana ribuan anak sungai bermuara kepadanya. Atau satu kitab, satu Tuhan, namun berbeda penafsiran. Begitulah kiranya problematika dunia sekarang ini. Tapi yakinkanlah bahwa mereka juga adalah bagian dari korban doktrin cuci otak yang menyesatkan.
..
Dengan mata haru Dalai Lama menasehati kita "jika Tuhan adalah dzat yang memerintahkan manusia melakukan kekerasan BOM sungguh dia bukan Tuhan yang layak di sembah", apalagi beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan suci ramadhan, bulan yang di tunggu-tunggu oleh umat seluruh dunia. Karena bagi sebagian orang Bakdan adalah bagi siapa saja, tidak hanya bagi umat Islam saja. Hingga bakdan bisa di maknai sebagai praktek dari rahmatan lil alamin yang menyejukan dan saling memaafkan.
..
Maka dari itu marilah kita menjadi cermin diri sendiri, sudahkah kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak. Dari pada anggapan-anggapan yang kita layangkan tiap hari tidak tepat sasaran, lebih baik introspeksi diri. Jika pun diri kita merasa baik, tentunya kebaikan tidak tidak layak kita paparkan kepada orang lain, sebab orang lain tidak membutuhkan itu. Saling menghormati dan menghargai sangat di butuhkan dalam kehidupan yang bhinneka ini, maka rasanya tak pantas dalam penghayatan yang esoteris, ramadhan hanya sebagai bualan belaka. Justru moment ini harusnya menjadi momen training dan momen yang memperteguh persatuan.
..
Kita bukan manusia infotainmen, tapi kita adalah manusia yang mencoba berkontemplasi, menghayati diri, betapa banyak dosalah kita. Hikmah dan hidayah bak bulu yang beterbangan, tercecer dimana-mana, sekarang kita lah yang mau memungutnya atau tidak?
Maka dari itulah tertawakanlah diri ini yang tentunya masih mencoba untuk menjadi manusia yang baik, tentunya di mata manusia dan lebih lagi di mata Tuhan.
"Marhaban ya ramadhan, marhaban ya syahru maghfirah".
#Salam_Budaya
Komentar
Posting Komentar