Ngaji vs Konser
..
Bang Woks
Saya tidak bisa move on dari acara semalam. Sebuah acara yang membuat orang memilih kemanakah jiwanya akan hadir. Juga sebuah acara yang membuat badanya berjalan menentukan pilihanya pula, untuk sama-sama duduk menyaksikan bersama sebuah keinginan yang memang berbeda-beda. Pepatah lama mengatakan bahwa "dimana beda kepala disitu pula beda isinya".
..
Jika di petakan acara semalam adalah acara yang terselenggara yang berada berdasarkan letak geologis yang sama, antara di kanan dan kiri. Bedanya, kedua acara tersebut di pisahkan oleh sosok yang ketiga yaitu adanya gedung pencakar langit dan satu buah rumah warga. Acara tersebut adalah acara konser musik dengan rising starnya Mas Iksan Skuter (kebetulan saya juga penggemarnya) dan acara yang lainya yaitu acara Haul dan Haflah akhirussanah salah satu pondok di plosokandang yang diisi dengan pengajian.
..
Karena saya hadir di acara pengajian maka yang akan saya tuliskan adalah hasil dari acara pengajian itu. Maaf mas Iksan saya lewat dulu. hehe. Karena bagi saya lihat di foto dan video saja sudah lebih dari cukup. Lanjuut.
Pada saat pengajian saya merasa sangat beruntung, karena bisa langsung bertatapan dengan Drs KH Abdul Khobir, MT, ternyata beliau merupakan adik kandung dari KH Abdul Kholik (pengasuh PonPes Mbah Dul Plososkandang). Jika saya mendengar ceritanya sungguh bisa menjadi teladan, apalagi sekelas santri teri seperti saya, dan inilah yang di sebut antara cita, cinta dan harapan.
..
Beliau merupakan salah satu putra dari KH Abdul Hadi (Mbah Dul) dan
Ibu Nyai Hj Chusnul Chotimah dan merupakan juga saudara dari Ibu Hj Hurriyah dan H Abdul Hasan. Beliau mengatakan bahwa, selama ini beliau merupakan putra bapak yang satu-satunya tidak bisa ngaji namun, beliau juga tidak menyangka bahwa sekarang bisa jadi menantu KH Ilyas Ruhiyat ponpes Cipasung Tasikmalaya yang menikahi Dra Hj N. Ida Nurhalida, M.Pd. Beliau sendiri bingung apa istimewanya. Kata beliau yang selama ini ia rasakan adalah salah satu doa yang di ajarkan oleh KH Ali Maksum waktu ikut ngaji pasan di Krapyak Jogja dan yang paling terasa adalah doa ibu bapak serta rasa ta'dhim kepadanya. Beliau juga merupakan pendiri STTC Cipasung dan Pembina Asrama Putra Esa Al-jabar Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat)
..
Sebagai penceramah KH Asfiya Hamida memberikan pesanya yang mengambil nasihat dari Abul Qosim al Qoyyumi bahwa kita harus mensyukuri nikmat dan hakikat, apalagi kita adalah umat yang di pilih Allah untuk beragama Islam. Disisi lain sekarang agama cuma ibarat pajangan, karena orang hanya menggunakan agama hanya sebagai kulitnya dan tidak benar-benar menggunakanya sebagai pakaian.
..
Pesan dalam pengajian tersebut khususnya di tujukan untuk para santri untuk terus berjuang bagi kelangsungan pondok pesantren. Menurut Prof Sudjatmiko dari Jepang mengatakan bahwa " selama masih ada pesantren Indinesia akan aman".
Tugas pokok santri sekarang adalah Birrul walidain, gemar mengaji dan silaturrahmi, insyaAllah hidup akan di tujuki jalanNya. Pesantren adalah satu-satunya lembaga yang tidak bisa di atur oleh pemerintah, karena pesantren kyainya harus takut kepada Allah bukan pada pemerintah.
..
Karena hidup ini komplek maka yang suka konser monggo dan yang suka ngaji juga sak kerso, pokok saling hormat menghormati karena kita sama-sama umat muslim yang sejatinya kita harus bersatu dan jangan terpecah belah. Yang ngaji tidak menganggap dirinya suci dan yang ikut konser juga tidak boleh menjatuhkan yang lainya.
Tetap jaga kerukunan di tengah perbedaan. Bangsa ini terlalu mahal hanya untuk sebuah perpecahan.
#Salam_budaya
..
Bang Woks
Saya tidak bisa move on dari acara semalam. Sebuah acara yang membuat orang memilih kemanakah jiwanya akan hadir. Juga sebuah acara yang membuat badanya berjalan menentukan pilihanya pula, untuk sama-sama duduk menyaksikan bersama sebuah keinginan yang memang berbeda-beda. Pepatah lama mengatakan bahwa "dimana beda kepala disitu pula beda isinya".
..
Jika di petakan acara semalam adalah acara yang terselenggara yang berada berdasarkan letak geologis yang sama, antara di kanan dan kiri. Bedanya, kedua acara tersebut di pisahkan oleh sosok yang ketiga yaitu adanya gedung pencakar langit dan satu buah rumah warga. Acara tersebut adalah acara konser musik dengan rising starnya Mas Iksan Skuter (kebetulan saya juga penggemarnya) dan acara yang lainya yaitu acara Haul dan Haflah akhirussanah salah satu pondok di plosokandang yang diisi dengan pengajian.
..
Karena saya hadir di acara pengajian maka yang akan saya tuliskan adalah hasil dari acara pengajian itu. Maaf mas Iksan saya lewat dulu. hehe. Karena bagi saya lihat di foto dan video saja sudah lebih dari cukup. Lanjuut.
Pada saat pengajian saya merasa sangat beruntung, karena bisa langsung bertatapan dengan Drs KH Abdul Khobir, MT, ternyata beliau merupakan adik kandung dari KH Abdul Kholik (pengasuh PonPes Mbah Dul Plososkandang). Jika saya mendengar ceritanya sungguh bisa menjadi teladan, apalagi sekelas santri teri seperti saya, dan inilah yang di sebut antara cita, cinta dan harapan.
..
Beliau merupakan salah satu putra dari KH Abdul Hadi (Mbah Dul) dan
Ibu Nyai Hj Chusnul Chotimah dan merupakan juga saudara dari Ibu Hj Hurriyah dan H Abdul Hasan. Beliau mengatakan bahwa, selama ini beliau merupakan putra bapak yang satu-satunya tidak bisa ngaji namun, beliau juga tidak menyangka bahwa sekarang bisa jadi menantu KH Ilyas Ruhiyat ponpes Cipasung Tasikmalaya yang menikahi Dra Hj N. Ida Nurhalida, M.Pd. Beliau sendiri bingung apa istimewanya. Kata beliau yang selama ini ia rasakan adalah salah satu doa yang di ajarkan oleh KH Ali Maksum waktu ikut ngaji pasan di Krapyak Jogja dan yang paling terasa adalah doa ibu bapak serta rasa ta'dhim kepadanya. Beliau juga merupakan pendiri STTC Cipasung dan Pembina Asrama Putra Esa Al-jabar Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat)
..
Sebagai penceramah KH Asfiya Hamida memberikan pesanya yang mengambil nasihat dari Abul Qosim al Qoyyumi bahwa kita harus mensyukuri nikmat dan hakikat, apalagi kita adalah umat yang di pilih Allah untuk beragama Islam. Disisi lain sekarang agama cuma ibarat pajangan, karena orang hanya menggunakan agama hanya sebagai kulitnya dan tidak benar-benar menggunakanya sebagai pakaian.
..
Pesan dalam pengajian tersebut khususnya di tujukan untuk para santri untuk terus berjuang bagi kelangsungan pondok pesantren. Menurut Prof Sudjatmiko dari Jepang mengatakan bahwa " selama masih ada pesantren Indinesia akan aman".
Tugas pokok santri sekarang adalah Birrul walidain, gemar mengaji dan silaturrahmi, insyaAllah hidup akan di tujuki jalanNya. Pesantren adalah satu-satunya lembaga yang tidak bisa di atur oleh pemerintah, karena pesantren kyainya harus takut kepada Allah bukan pada pemerintah.
..
Karena hidup ini komplek maka yang suka konser monggo dan yang suka ngaji juga sak kerso, pokok saling hormat menghormati karena kita sama-sama umat muslim yang sejatinya kita harus bersatu dan jangan terpecah belah. Yang ngaji tidak menganggap dirinya suci dan yang ikut konser juga tidak boleh menjatuhkan yang lainya.
Tetap jaga kerukunan di tengah perbedaan. Bangsa ini terlalu mahal hanya untuk sebuah perpecahan.
#Salam_budaya
Komentar
Posting Komentar