Langsung ke konten utama
Hadratur Rasul SAW
..
Bang Woks
"27 rajab Nabi Muhammad Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, Tuhan tunjukan tanda kebesaranya untuk tamsilan wahai umat Islam sedunia".
Penggalan lagu tersebut pernah saya nyanyikan sejak duduk di MDA (Madrasah Diniyyah Awaliyah) dulu. Dimana pada saat itu saya masih imut-imut dan sangat pemalu. Untuk sekedar naik ke atas panggung saja pada saat acara peringatan Isra Mi'raj saya gemetaran sekujur tubuh, apalagi menemui_Mu. Rasanya diri ini hina dina.
..
Sekarang kita sudah berjumpa lagi dengan momen dimana umat Islam berlomba-lomba menyelenggarakan acara peringatan Isra Mi'raj yang tidak terasa sudah sampai di tahun 1439 hijriyah. Memang momentum ini adalah salah satu momen yang di tunggu-tunggu oleh kebanyakan orang Islam karena mereka tahu pada bulan rajab banyak sekali turun rahmatNya. Disisi lain pada acara tersebut menjadi sebuah ajang pertemuan antar warga yang tumpah ruah dalam acara tersebut dan menjadi ajang persatuan.
Bukan tanpa alasan mengapa mereka rela terus melaksanakan peringatan Isra Mi'raj melainkan karena kecintaan mereka kepada sang pengantar risalah, kanjeng Nabi Muhammad SAW. Orang yang sangat revolusioner dalam menebar kasih sayang dan menebar akhlak yang mulia. Manusia yang selalu di elu-elukan sepanjang zaman untuk di mintakan syafaatnya kelak di pengadilan akhirat.
Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya di ungkapkan oleh manusia melainkan seluruh mahluk. Salah satunya batu yang ingin ikut bersama nabi pada saat isra mi'raj (ada yang mengatakan sumber tersebut lemah). Ada juga sebatang pohon kurma yang merengek-rengek, menangis seperti bayi ketika rasulullah tidak menjadikanya sandaran pada saat beliau melaksanakan khutbahnya. Hingga akhirnya rasul pun memeluknya dan ia pun kembali senang dan bahagia. Termasuk al Qosywa unta rasul yang tidak mau di kendarai oleh orang lain kecuali oleh rasul sendiri dan tentunya masih ada lagi kisah yang lainya. Termasuk kisah pemuda Ukasyah ra. Dimana pada saat itu Ukasyah ingin memintakan balasan atas apa yang dulu pernah rasul lakukan pada perang uhud. Dimana beliau sedang memukul kuda perangnya dan pada saat itu terkena Ukasyah yang kebetulan berada di belakang beliau. Singkatnya pada saat itu rasul siap di mintakan balasanya berupa cambukan. Hingga beberapa sahabat melarang beliau di cambuk dan mereka rela yang harus di cambuk menggantikan beliau. Dan akhirnya ukasyah tidak benar-benar ingin mencambuk beliau. Ukasyah hanya ingin memeluk tubuh mulia yang harum mewangi, yang tentunya tidak akan di sentuh api neraka, yaitu tubuh Rasulurrahmah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan memang itu cita-cita ukasyah.
Salah satu kecintaan kita umatnya sekarang ialah sebuah ajakan mari kita tunaikan sholat, lebih mendekat lagi kepada Allah karena dengan rahmatnya kita masih berjumpa dengan salah satu bulan agung ini. Jangan lupa pula perbanyaklah shalawat kepada NabiNya, supaya beliau mau memintakan syafaatnya kepada Allah yang maha ghafur itu.
Sungguh sang Rasul itu telah mengajarkan kepada kita umatnya akan betapa pentingnya sebuah persatuan. Karena sebuah mahfudzoh berbunyi الاتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ Bersatu adalah pangkal keberhasilan.
Semoga dalam momentum isra mi'raj ini nabi Muhammad akan selalu relevan sepanjang zaman menjadi suri tauladan.
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...