Langsung ke konten utama
Narasi Cinta untuk Aliyah Nurul Hikmah Haurgeulis
..
Bang Woks
Tidak terlalu berlebihan jika aku menuliskan kalimat dalam baris judul di atas sebagai pembuka bacaan. Juga tidak terlalu lebay kan. Karena hal tersebut soal dzauq (rasa), sehingga orang mengatakan bahwa minum wedhang bandrek itu enak sesudah ia benar-benar merasakanya. Bukan hanya sekedar menerka atau merangkai seribu tanda tanya. Karena ini cinta, maka tak usahlah di suruh atau di paksa untuk menyukseskan rasa itu dalam diri. Semua akan alamiah alias MESTAKUNG sendiri. Begitulah ungkapan yang terlontar dari beberapa alumni dari berbagai angkatan. Mengenai sekolahnya dulu.
Jika di tanya sudah jadi apakah penulis ketika lulus dari aliyah?, maka penulis menjawab dengan sopan "ini bukan soal menjadi APA, tapi ini soal APA yang akan di lakukan?", sehingga jika orang sudah memiliki pola pikir demikian, maka begitulah artinya perjuangan. Mencoba bermanfaat bagi orang lain. Soal jadi apakah nanti, wah itu rahasia Tuhan, kita sebagai wayang hanya tinggal usaha yang gigih dan jangan lupa berdoa dan berbagi.
Salah satu wadah gerakan itu termanivestasi dalam AMANAH PEDULI, yaitu sebuah wadah atas terselenggaranya peran sosial demi menghilangkan sikap individual. Menciptakan jiwa solidaritas dan rasa saling tolong menolong. Kita sangat paham bahwa api tidak bisa di padamkan oleh satu tetes air yang di bawa oleh kawanan semut, namun percayalah pertolongan Tuhan akan selalu datang pada mereka yang mau berikhtiyar, memperbayak memproduksi kebaikan. Mungkin itulah yang di sebut shaleh sosial.
Madrasah Aliyah Nurul Hikmah memang memiliki gedung sekolah yang kecil dan dengan siswa yang sedikit pula. Namun cita-citanya membangun peradaban tidak secetek orang katakan. Justru dengan wasilah itulah rasa nyaman bisa di dapatkan dari berbagai alumninya, sehingga ada istilah "madrasaty jannati". Orang sedikit tapi merasa nyaman dan ingin selalu kembali. Rasa itulah jika saling di hubungkan maka akan menciptakan vibrasi kebaikan.
Tulisan ini bukan reaksi dari proaksi alumninya, melainkan dorongan batin bahwa MANHIK telah berkontribusi besar dalam proses kemajuan para lulusanya, sederhananya adalah mencoba untuk melakukan apa yang pernah di dapat dulu ketika di masa sekolah. Madrasah ini lahir dan berdiri bukan dari orang biasa, melainkan dari mereka para kyai, para pejuang yang rela mencurahkan jiwa raganya demi merealisasikan sekolah berhaluan ahlussunnah wal jamaaah, sehingga do'a kita tiap pagi selalu di panjatkan kepada Allah untuk mereka. Lahumul fatihah..
Rasanya tulisan sepanjang apapun tidak cukup untuk menggambarkan betapa telah berjasa besarnya sekolah kami itu. Mungkin jika di lakukan testimoni rasanya kami ingin sekolah lagi. Banyak kenangan dan pelajaran yang kami dapatkan disana sebagai pedoman hidup.
Jika pun masih ada segelintir orang yang tidak menyukai (hatters) sekolah kami maka kami akan bertindak layaknya pujangga "balaslah keburukan dengan kebaikan niscaya cahaya Tuhan akan menerangi jalan kalian".
Tetaplah aktif dimanapun dan kapanpun, terus menggali inovasi sebagai sebuah jalan mengeksplorasi nikmat yang telah di berikan, juga jangan lupa selalu berperilaku religius sebagai sebuah tujuan dalam mengikuti jejak kenabian, yaitu tabligh dan menyukseskan uswah hasanah.
Semoga doa para guru dan doa kami selalu menyelimuti para orang-orang yang mau berjuang dalam memajukan sekolah kami itu. Dan di harapkan kepada generasi penerus agar selalu semangat dalam menjalankan amanah kehidupan untuk berpendidikan, berilmu pengetahuan serta berakhlak karimah. Mari sebarkan semangat AIR ke seluruh alam. hehe
Selamat berproses kawan. Dengan ridho Allah kami melangkah pasti.
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...