Langsung ke konten utama
Ada yang Hilang dari Mahasiswa
..
Bang Woks
Ketika saya belum menjadi mahasiswa pandangan saya terhadapnya (mahasiswa) adalah sesuatu hal yang membuat saya selalu berfikir, ohh begini tohh mahasiswa. Penuh dengan kreatifitas, wacana, progresif, aktif, kritis, pengabdian pada masyarakat (mungkin termasuk juga memperjuangkan nasib rakyat (baca; demo)), dan sebagainya.
Namun pada akhirnya dalam pandangan sempit saya. Saya menemukan beberapa ironi mahasiswa yang sampai hari ini saya tidak bisa berhenti berfikir, barangkali sejenak saja. Hal-hal tersebut lebih tepatnya seperti sebuah ruh yang hilang namun sejatinya ada. Walaupun saya ini juga mahasiswa tentunya bukan saya objek dari tulisan ini, melainkan mahasiswa yang lain. Akan tetapi saya juga tidak menyebut diri ini suci apalagi sempurna. Saya siihh mencoba tidak berkutat pada dulu mana antara ayam dan telur atau jeruk tak akan makan jeruk. Anggap saja tulisan ini adalah sebuah analisis kecil dari sang anak gembala yg kebetulan sedang singgah di bumi orang untuk berkuli_ah.
..
Sesuatu yang hilang itu meliputi; membaca & menulis. Dua kegiatan itu kini mulai di tinggalkan oleh sebagian mahasiswa. Hal lain yang mulai di tinggalkan adalah acara diskusi. Dengan hadirnya teknologi kini mahasiswa hampir bebas berkehendak. Tidak ada upaya berfikir keras terhadap pergulatan seputar wacana dan hasil kebudayaan silang dan tukar fikiran antara dua orang atau lebih.
Hal itulah yg menurut saya harus di perbaiki, sekarang anda boleh setuju atau tidak, yang jelas mari berdiskusi, berlomba mengikat inspirasi agar menjadikanya sebuah solusi. Agar jalan gelap dan buntu itu kembali lagi ke jalan yang terang benderang.
..
Kita tahu bahwa kegiatan menulis adalah hal yang selalu harus ada dalam kegiatan pokok mahasiswa. Karena hampir tiap hari dan tiap minggu kegiatan itu akan menjadi kegiatan yang harus di selesaikannya sebagai sebuah tugas. Bisa menulis tentunya harus di imbangi pula dengan kegiatan pengantarnya yaitu kegiatan membaca. Tanpa membaca kegiatan menulis akan mandek, kecuali menulis ringan. Hal itu pun masih perlu upaya keras dalam memunculkan inspirasi atau kadang berperang melawan kemalasan.
..
Diskusi juga merupakan sebuah hal yang harus menjadi daya dukung mahasiswa dalam memainkan peranya dalam jurusan, utamanya seputar keilmuan yang ada. Sehingga pepatah mengatakan"ilmu tidak di pendam sendiri, ilmu juga tidak sekedar di perbincangkan, tapi ilmu adalah sebuah hal yang dinamis". Tujuan diskusi sendiri bukan berlomba mencari siapa yang lebih pintar atau siapa yang menang debat, melainkan mencari solusi dan mengasah keilmuan agar terus terjaga dalam ingatan. Dulu perdiskusian ramai dimana-mana, bahkan sampai memakan bahu jalanan atau juga di bawah pohon rindang. Tapi lihat keadaan sekarang, semua seolah sirna, untuk sekedar diskusi publik dalam ruang yang gratis pun terasa amat sulit dan kehilangan arahnya. Lalu jika sudah begitu apa yang harus kita tunggu?
..
Semua ruang-ruang rasa yang luas dan dalam itu telah tergantikan oleh smartphone yang selalu berada di genggaman, gadget itu seperti nyawa kedua. Rasanya dunia akan runtuh jika tak ada dia. Jika pun ruang-ruang diskusi yang sarat makna itu masih ada toh sekarang sudah tidak lagi bersua muka dengan muka tapi lagi-lagi sudah di sekat oleh tabir bernama layar sentuh pada gadget. Tidak hanya itu, kelas-kelas pembelajaran dalam organisasi menjadi tidak laku lagi, semua seolah pergi dan tinggal menyisakan beberapa orang wanita yang masih peduli. Mereka menganggap organisasi sebagai faktor penghambat kebebasan, padahal faktanya dari organisasilah semua ekspresi terwadahi. Tapi mungkin inilah anomali, atau inilah gagasan akhir mencapai kulminasi titik jenuh kehidupan. Bagaimanapun keadanya kita harus akui bahwa seseorang tidak bisa untuk di seragamkan, mereka memiliki hak tersendiri dalam melakukan apa yang mereka mau. Tapi yang terpenting adalah, jika semua faktor pembeda sudah merasuk pada wadah yang sama, mengapa persamaan tidakk di tegakkan dari pada perbedaan. Marilah ruh semangat mahasiswa kita kembalikan.
#Salam Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...