Memandang dengan Mata Tanda Tanya.
..
Bang Woks
Ternyata yang saya pahami mengapa manusia menjadi satu-satu nya mahluk yang istimewa dan bisa di katakan sempurna di banding dengan mahluk yang lain nya, bukan semata karena akal nya. Ingat ya bukan akal apalagi otak. Jika otak yang menjadi tumpuan utama manusia, simpanse pun memiliki otak.
Saya ingin menyunting hikmah yang di sampaikan oleh Syeikhul akbar Ibnu arabi. Menurut beliau ternyata yang menjadikanya manusia sempurna bukan karena akalnya (hayawanu nathiq). Jika hanya mengandalkan rasio belaka maka proses berfikir tersebut hanya bagian dari faktor alam saja. Sehingga yang membuat manusia sempurna ialah karena manusia bisa menampakan nama-nama (asma) dan sifat-sifat Tuhan. Begitulah pesan beliau.
..
Dari itulah sehingga saya dapat belajar banyak hal termasuk bagaimana dalam menghayati spiritualitas dan kehidupan. Maka dari itu orang berfikir saja tidak cukup. Nah disinilah mungkin yang di sebut quran sebagai term ulil absor. Berfikir jernih dengan nurani menggapai kecerdasan ketiga (spiritualitas).
Disisi yang lain mengapa Allah memberikan perangkat berupa akal fikiran, tentunya agar semua perangkat itu dapat terkoneksi melalui resistor-resistor kejernihan berfikir. Jangan lupa pula kita tidak boleh menafikan peran dzauq (rasa, hati). Justru keduanya menggabung menjadi sebuah kesatuan, agar dalam memandang sesuatu tidak cacat. Intinya Tuhan berpesan agar fungsi dari akal dapat di fungsikan dengan baik. Termasuk dalam menghayati ayat-ayat Nya. Akal menjadi sebuah penyambung lidah dalam memaknai dan menuju nurani. Karena al Quran sendiri tak akan pernah berbicara pada diri kita, jika bukan karena akalah yang membuatnya bicara.
..
Soal memandang sesuatu pun kita bisa belajar pada bagian tubuh yang kita memiliki. Hal itu pun jika kita sadari adanya, namun kebanyakan orang tak tau makna dalam dirinya sendiri. Sehingga dalam metodologi sufi, yang tertinggi yang harus di capai manusia adalah "mann arafa nafsahu faqod arafa rabbahu".
Kita memiliki dua mata yang tidak mampu melihat, namun ia berjalan dengan mata lain yang membuatnya optimis dan waspada. Ia adalah mata kaki. Itu saja tidak cukup, sehingga mata kaki harus di bantu dalam melakukan segala aktivitasnya dengan bantuan mata dhohir yang berjalan di pelataran wajah kita. Sehingga orang buta yang bisa berjalan berkolaborasi (kerjasama) dengan orang dengan mata sehat namun dia gempor (lumpuh) maka ia akan menemui jalanya.
Mata dhohir yang akan memandang sesuatu yang bersifat eksoterik sedangkan mata hati akan jauh menembus sekalipun yang bersifat esoteris.
..
Dan ternyata memandang dengan mata dhohir saja kita tak akan mampu dalam memaknai ayat-ayatNya yang penuh dengan wacana progresif, hikmah, pelajaran dan hal-hal lain yang belum tersingkap di dalamnya. Kita masih membutuhkan mata hati yang memang itulah salah satu sumber cahaya penerang dari sejatinya kegelapan. Mata dhohir boleh saja buta, asal jangan mata hati itu buta, apalagi sampai fana.
..
Cukuplah bagi Allah, Tuhan semesta alam yang selalu memancarkan sinar nya kepada hambanya yang sholeh dan menyucikan diri. Tiada sinar lain yang mampu menyinari diri kita dari gelapnya hidup, dan suramnya pekat dunia yang sejatinya mencengkeram. Hanya Allahlah sebaik-baik Tuhan yang maha pemurah, yang darinya amarah hilang dengan kemurahanya. Semoga kenikmatan yang Allah berikan kepada kita selalu di syukuri dengan ketetapan hati yang sedalam-dalamnya agar semuanya dapat menggapai ridhonya. Mari memandang ayat ayatNya dan memandang diri sendiri, sungguh diri ini tak lebih dari serpihan debu yang belum berarti.
#Salam_Budaya
..
Bang Woks
Ternyata yang saya pahami mengapa manusia menjadi satu-satu nya mahluk yang istimewa dan bisa di katakan sempurna di banding dengan mahluk yang lain nya, bukan semata karena akal nya. Ingat ya bukan akal apalagi otak. Jika otak yang menjadi tumpuan utama manusia, simpanse pun memiliki otak.
Saya ingin menyunting hikmah yang di sampaikan oleh Syeikhul akbar Ibnu arabi. Menurut beliau ternyata yang menjadikanya manusia sempurna bukan karena akalnya (hayawanu nathiq). Jika hanya mengandalkan rasio belaka maka proses berfikir tersebut hanya bagian dari faktor alam saja. Sehingga yang membuat manusia sempurna ialah karena manusia bisa menampakan nama-nama (asma) dan sifat-sifat Tuhan. Begitulah pesan beliau.
..
Dari itulah sehingga saya dapat belajar banyak hal termasuk bagaimana dalam menghayati spiritualitas dan kehidupan. Maka dari itu orang berfikir saja tidak cukup. Nah disinilah mungkin yang di sebut quran sebagai term ulil absor. Berfikir jernih dengan nurani menggapai kecerdasan ketiga (spiritualitas).
Disisi yang lain mengapa Allah memberikan perangkat berupa akal fikiran, tentunya agar semua perangkat itu dapat terkoneksi melalui resistor-resistor kejernihan berfikir. Jangan lupa pula kita tidak boleh menafikan peran dzauq (rasa, hati). Justru keduanya menggabung menjadi sebuah kesatuan, agar dalam memandang sesuatu tidak cacat. Intinya Tuhan berpesan agar fungsi dari akal dapat di fungsikan dengan baik. Termasuk dalam menghayati ayat-ayat Nya. Akal menjadi sebuah penyambung lidah dalam memaknai dan menuju nurani. Karena al Quran sendiri tak akan pernah berbicara pada diri kita, jika bukan karena akalah yang membuatnya bicara.
..
Soal memandang sesuatu pun kita bisa belajar pada bagian tubuh yang kita memiliki. Hal itu pun jika kita sadari adanya, namun kebanyakan orang tak tau makna dalam dirinya sendiri. Sehingga dalam metodologi sufi, yang tertinggi yang harus di capai manusia adalah "mann arafa nafsahu faqod arafa rabbahu".
Kita memiliki dua mata yang tidak mampu melihat, namun ia berjalan dengan mata lain yang membuatnya optimis dan waspada. Ia adalah mata kaki. Itu saja tidak cukup, sehingga mata kaki harus di bantu dalam melakukan segala aktivitasnya dengan bantuan mata dhohir yang berjalan di pelataran wajah kita. Sehingga orang buta yang bisa berjalan berkolaborasi (kerjasama) dengan orang dengan mata sehat namun dia gempor (lumpuh) maka ia akan menemui jalanya.
Mata dhohir yang akan memandang sesuatu yang bersifat eksoterik sedangkan mata hati akan jauh menembus sekalipun yang bersifat esoteris.
..
Dan ternyata memandang dengan mata dhohir saja kita tak akan mampu dalam memaknai ayat-ayatNya yang penuh dengan wacana progresif, hikmah, pelajaran dan hal-hal lain yang belum tersingkap di dalamnya. Kita masih membutuhkan mata hati yang memang itulah salah satu sumber cahaya penerang dari sejatinya kegelapan. Mata dhohir boleh saja buta, asal jangan mata hati itu buta, apalagi sampai fana.
..
Cukuplah bagi Allah, Tuhan semesta alam yang selalu memancarkan sinar nya kepada hambanya yang sholeh dan menyucikan diri. Tiada sinar lain yang mampu menyinari diri kita dari gelapnya hidup, dan suramnya pekat dunia yang sejatinya mencengkeram. Hanya Allahlah sebaik-baik Tuhan yang maha pemurah, yang darinya amarah hilang dengan kemurahanya. Semoga kenikmatan yang Allah berikan kepada kita selalu di syukuri dengan ketetapan hati yang sedalam-dalamnya agar semuanya dapat menggapai ridhonya. Mari memandang ayat ayatNya dan memandang diri sendiri, sungguh diri ini tak lebih dari serpihan debu yang belum berarti.
#Salam_Budaya
Komentar
Posting Komentar