Langsung ke konten utama
Madrasatus Tsani
..
Dalam starata dunia akademik, sekolah adalah salah satu lembaga yang benar-benar telah berpengaruh besar dalam percaturan perkembangan peserta didik. Bahkan jika di runtut mulai dari tingkatan paling dasar, seorang peserta didik belum bisa apa-apa tanpa seorang guru. Sehingga pantaslah sekolah dasar menjadi satu dari berbagai hal yang telah berjasa besar dalam kemajuan peserta didiknya, atau pendidikan sebelumnya, seperti TPA atau taman kanak-kanak. Kemajuan tersebut mulai dari membaca hingga bagaimana cara berinteraksi sosial.
Dalam bahasa sederhana lembaga tersebut merupakan madrasah kedua setelah pendidikan pertama yang telah di berikan di rumah, dalam hal ini adalah orang tua. Seperti halnya cinta pada pandangan pertama maka, apa yang pertama kali di indra maka itulah yang di terka, di rekam dan di lakukan. Begitulah sifatnya anak-anak, sehingga konsep modelling yang baik dari orang tua sangat menentukan perkembangan pendidikan di masa selanjutnya. Dari fenomena inilah madrasatul ula dan madrasatus tsani harus berjalan kompak dan beriringan, keduanya tidak boleh saling mengandalkan. Kata KH Anwar Mansyur Lirboyo mengatakan bahwa syarat agar seorang siswa dapat berhasil dalam pembelajaranya ialah antara siswa (anak), orang tua dan guru harus selaras, berjalan beriringan, tidak boleh salah satunya mlempem, sehingga kesungguhan dan saling supportlah salah satu kunci keberhasilan.
Jika kita ingat masa-masa SD dulu tentunya kita dapat menilai betapa masih polosnya diri kita. Jika di bandingkan dengan hari ini tentunya perjalanan kita dalam menimba ilmu sangatlah panjang dan pelik. Maka dari itu berterimakasih pada guru-guru SD harus sering kita lakukan. Namun dalam beberapa kasus "kacang lupa akan kulitnya" sering terjadi, karena ada beberapa alasan seperti kesibukan dan seorang guru tersebut telah mengalami mutasi ke instansi yang lain.
Tujuan akhir dari pendidikan di madrasatus tsani ialah menjadikan siswa bersikap, berfikir serta bertindak dewasa. Hal itulah yang telah di teruskan sejak pendidikan pertamanya di rumah. Banyak orang tua yang juga tidak bersikap dewasa. Sehingga kedewasaan itu tidak mesti dimiliki para orang tua. Namun yang harus di perhatikan adalah semakin tinggi pendidikan seseorang maka seharusnya semakin dewasalah ia, begitulah pengajaran akhir dari madrasatus tsani mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Maka dari itu persiapkanlah anak didik kita sedini mungkin untuk di tempa terlebih dahulu di madrasatul ula (rumah), sehingga saat madrasatus tsani bergerak merasuk disanalah tinggal melanjutkan saja. Dan tentunya akan menempuh sebuah proses yang panjang dan tanpa henti "minal mahdi illal lahdi".
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...