Mencintai Budaya
..
Laki-laki itu sudah mulai menua, jenggotnya mulai memutih, namun gaya bahasa, tutur katanya layaknya anak muda sweet seventeen. Lantunan tembang dan syair terbangun dalam alunan melodi dan notasi khas langgam jawa yang menggoda, masih mampu keluar dari suaranya yang merdu.
Topi Coboy yang ia idam-idamkan sejak di Baluran masih tampak asyik menemaninya, dalam balutan seni pedalangan yang biasanya mengenakan blangkon. Dengan surjan dan sarung khas Kyai Semar yang sangat berfilosofi, bahwa ketika aku jauh dari Mu maka sejatinya engkaulah yang mengingatkan betapa dekatnya diriMu.
..
Budaya bukan hasil karya cipta manusia. Budaya sebenarnya sudah ada, namun atas prakarsa Tuhanlah budaya itu di anugerahkan kepada mereka yang benar-benar tersadarkan. Maka istilah cipta itu sendiri hanya milik Tuhan, sehingga mulai dari sekarang seharusnya kata cipta itu di hilangkan dalam kamus-kamus kita. Pantaslah bahwa orang-orang sekarang telah benar-benar menciptakan kebenaranya sendiri. Atau ia merasa diri paling benar. Sehingga yang di perebutkan adalah kebenaran. Jangan-jangan Tuhan yang selama ini di sembah hanya atas interpretasi belaka.
..
Dalam berdoa pun manusia cenderung mendoakan manusia juga, mereka lupa padahal ada mahluk lain yang juga berhak mendapat doanya, seperti halnya para raja yang bersemayam di alam lain atau bahkan makrokosmos itu sendiri. Dan perlu di ingat jangan langsung menghukuminya syirik. Hanya Allah lah yang kuasa atas segalanya memang, namun mereka jualah yang telah berperan dalam membawa pesan pengingat bagi kita. Mereka telah mengajarkan pada kita segalanya. Tanpa mereka Tuhan tidak mungkin turun untuk mengajari langsung pada kita.
..
Sebagai manusia budaya seharusnya orang Indonesia merasa bangga dan peduli akan budayanya, jangan sampai budaya itu sirna. Orang yang paling bertanggungjawab terhadap budaya yang hilang adalah para budayawan dan seniman. Kesalahan mereka karena tidak mau merawat dan tidak menumbuhkan metabolisme kreatif. Padahal jika seni di padukan dengan zaman tentu tidak bertentangan pula. Sehingga dakwah pun harus di sesuaikan dengan zamanya.
Barat telah berhasil mengecilkan bangsa Indonesia ini. Salah satunya mengenai berapa lama negeri ini di jajah Belanda?, semua sepakat menjawab 350 tahun. Padahal aslinya hanya 40 tahun, yang 110 tahunya adalah upaya mereka yang tidak pernah bisa menembus Indonesia yang wingit ini. Mereka selalu gagal dalam berupaya menembus benteng negeri ini. Walaupun pada akhirnya tembus juga, karena beberapa hal. Dan itulah sedikit pembodohan terhadap bangsa kita.
Selain itu ada tiga hal lagi yang dapat menghancurkan negeri dan budayanya yaitu, gerakan ulama yang bergelut dengan politik, persibuk para ibu dalam teknologi dan karier sehingga anak-anak mereka di didik oleh para pembantu dan takut-takuti guru dalam proses pembelajaran, sehingga fungsi guru hanya mengajar bukan mendidik. Tidak jarang pula kita melihat para guru di bui karena mendidik.
Marilah kita merenung dan menghayati, berdoa bersama agar budaya kita yang adiluhung itu tetap lestari hingga masa anak cucu. Walaupun kita sadar bahwa doa sekarang telah di edit sehingga jarang menemui kemustajaban.
..
Hingga akhirnya kata-kata hikmah di atas terlontar dari orang yang selama ini di cintai rakyatnya. Dan ternyata orang itu adalah ulama sekaligus presiden yang selalu banyak di tunggu oleh para pengikutnya. Dan inilah mottonya, "Jika dengan “Jancuk” pun tak sanggup aku menjumpaimu, dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu…" dia adalah Sujiwo Tejo, presiden tercinta dari Republik #Jancukers.
Candi Simping, Sumberjati Kademangan Blitar, 31 Maret 2018.
#Memayu_hayuning_budoyo
#Salam_Budaya
..
Laki-laki itu sudah mulai menua, jenggotnya mulai memutih, namun gaya bahasa, tutur katanya layaknya anak muda sweet seventeen. Lantunan tembang dan syair terbangun dalam alunan melodi dan notasi khas langgam jawa yang menggoda, masih mampu keluar dari suaranya yang merdu.
Topi Coboy yang ia idam-idamkan sejak di Baluran masih tampak asyik menemaninya, dalam balutan seni pedalangan yang biasanya mengenakan blangkon. Dengan surjan dan sarung khas Kyai Semar yang sangat berfilosofi, bahwa ketika aku jauh dari Mu maka sejatinya engkaulah yang mengingatkan betapa dekatnya diriMu.
..
Budaya bukan hasil karya cipta manusia. Budaya sebenarnya sudah ada, namun atas prakarsa Tuhanlah budaya itu di anugerahkan kepada mereka yang benar-benar tersadarkan. Maka istilah cipta itu sendiri hanya milik Tuhan, sehingga mulai dari sekarang seharusnya kata cipta itu di hilangkan dalam kamus-kamus kita. Pantaslah bahwa orang-orang sekarang telah benar-benar menciptakan kebenaranya sendiri. Atau ia merasa diri paling benar. Sehingga yang di perebutkan adalah kebenaran. Jangan-jangan Tuhan yang selama ini di sembah hanya atas interpretasi belaka.
..
Dalam berdoa pun manusia cenderung mendoakan manusia juga, mereka lupa padahal ada mahluk lain yang juga berhak mendapat doanya, seperti halnya para raja yang bersemayam di alam lain atau bahkan makrokosmos itu sendiri. Dan perlu di ingat jangan langsung menghukuminya syirik. Hanya Allah lah yang kuasa atas segalanya memang, namun mereka jualah yang telah berperan dalam membawa pesan pengingat bagi kita. Mereka telah mengajarkan pada kita segalanya. Tanpa mereka Tuhan tidak mungkin turun untuk mengajari langsung pada kita.
..
Sebagai manusia budaya seharusnya orang Indonesia merasa bangga dan peduli akan budayanya, jangan sampai budaya itu sirna. Orang yang paling bertanggungjawab terhadap budaya yang hilang adalah para budayawan dan seniman. Kesalahan mereka karena tidak mau merawat dan tidak menumbuhkan metabolisme kreatif. Padahal jika seni di padukan dengan zaman tentu tidak bertentangan pula. Sehingga dakwah pun harus di sesuaikan dengan zamanya.
Barat telah berhasil mengecilkan bangsa Indonesia ini. Salah satunya mengenai berapa lama negeri ini di jajah Belanda?, semua sepakat menjawab 350 tahun. Padahal aslinya hanya 40 tahun, yang 110 tahunya adalah upaya mereka yang tidak pernah bisa menembus Indonesia yang wingit ini. Mereka selalu gagal dalam berupaya menembus benteng negeri ini. Walaupun pada akhirnya tembus juga, karena beberapa hal. Dan itulah sedikit pembodohan terhadap bangsa kita.
Selain itu ada tiga hal lagi yang dapat menghancurkan negeri dan budayanya yaitu, gerakan ulama yang bergelut dengan politik, persibuk para ibu dalam teknologi dan karier sehingga anak-anak mereka di didik oleh para pembantu dan takut-takuti guru dalam proses pembelajaran, sehingga fungsi guru hanya mengajar bukan mendidik. Tidak jarang pula kita melihat para guru di bui karena mendidik.
Marilah kita merenung dan menghayati, berdoa bersama agar budaya kita yang adiluhung itu tetap lestari hingga masa anak cucu. Walaupun kita sadar bahwa doa sekarang telah di edit sehingga jarang menemui kemustajaban.
..
Hingga akhirnya kata-kata hikmah di atas terlontar dari orang yang selama ini di cintai rakyatnya. Dan ternyata orang itu adalah ulama sekaligus presiden yang selalu banyak di tunggu oleh para pengikutnya. Dan inilah mottonya, "Jika dengan “Jancuk” pun tak sanggup aku menjumpaimu, dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu…" dia adalah Sujiwo Tejo, presiden tercinta dari Republik #Jancukers.
Candi Simping, Sumberjati Kademangan Blitar, 31 Maret 2018.
#Memayu_hayuning_budoyo
#Salam_Budaya
Komentar
Posting Komentar