Langsung ke konten utama
Filsuf Rumahan
..
Bang Woks
Tulisan ini aku dedikasikan buat orang yang hampir tiap hari menjadi lawan ku dalam berdiskusi. Diskusi mulai dari topik persoalan fiqhiyyah sampai persoalan kehidupan yang rumit ini, termasuk soal asmara juga. Orang yang juga tak kenal lelah dalam mencari nafkah, mulai dari kuli di sawah sampai kuli untuk lillah. Seseorang yang cenderung menggunakan retorika dan mantiq dalam setiap rangkaian kata-katanya, yang tak jarang aku dan adiku sering tertawa, terjebak dalam kata-katanya. Sering pula kumisnya yang tipis membuat ku tak pernah berhenti berfikir, mengapa fikiran beliau sampai pada memikirkan hal itu.
..
Pesan-pesan bijak beliau bagiku tak kalah jika di bandingkan dengan thales, aristoteles, plato atau mungkin juga confusius. Gaya bahasa dan tindak tanduknya lebih cenderung mengikuti Ki Ageng Suryomentaram atau juga Raden Sostro Kartono, mungkin karena beliau sebagai anak keturunan yang lahir di bawah gunung Sumbing Magelang Jawa tengah. Dimana disanalah kota budaya dan kota peradaban yang menuntun kita agar selalu cerdas dan cekatan apalagi soal pelestarian adat nenek moyang.
..
Kehidupan sehari-hari beliau amatlah sangat sederhana, untuk pakaian pun lebih menyukai pakaian yang lama yang ia kenakan, selagi masih pantas mengapa tidak. Bagi sang filsuf kesederhanaan adalah salah satu langkah untuk menuai kebijaksanaan. Soal-soal keputusan-keputusan yang beliau ambil, biasanya cenderung demokratis walau kadang sikap beliau keras. Jika sudah mendengar masalah ilmu, beliau tidak pernah berfikir panjang, selain langsung mengiyakan. Beliau memiliki prinsip bahwa ilmu adalah warisan yang bisa menerangi jalan kita ketika buntu, menuntun di kala gelap gulita dan membimbing di kala tersesat. Memang benar yang beliau wariskan pada anak-anaknya bukanlah harta benda, melainkan sebuah pesan progresif untuk terus menanamkan moral tauhid dan sikap semangat terhadap sosial keilmuan. Dengan itulah kiranya kehidupan yang sederhana ini akan nampak kaya.
..
Cermin kehidupan memang sejatinya tergambar dari bagaimana kita menyikapi hidup. Sehingga ada sebuah fenomena yang sedang terjadi maka bagaimanakah respon kita, bukan bagaimana fenemona itu sendiri. Jika Descrates berkata "co gito ergo sum" maka sang filsuf rumahan itu berkata berbeda dimana keberadaan seseorang adalah tergantung sejauh mana kebermanfaatan hidup di masyarakat. Semakin ia bermanfaat maka mutiara tidak harus memaksakan untuk nampak, selain cahaya kerlap kerlip itu sendiri yang akan menjawabnya. Sehingga konsep bermanfaat bagi orang lain lebih di unggulkan di banding dengan sikap individu.
Semoga warisan sang filsuf itu tetap lestari agar suatu hari anak-anak keturunanya dapat menjadikan sebuah pelajaran dan menjadikanya jalan raya yang panjang bahwa hidup adalah perjuangan yang berujung. Biarlah Tuhan menilai kita sebagai hamba yang ingin selalu berbuat kebaikan.
..
Berbangga dan berbahagialah kamu sekalian yang masih memiliki sang filsuf mu di rumah. Begitu pula dengan diriku. Sehingga jika kita sadar bahwa sudah berapa banyak video dan kisah yang telah memerankan rekam jejak perjuangan beliau, agar kita sadar bahwa beliau adalah emas permata yang berharga ketika kita telah benar- benar kehilanganya. Atau sudah berapa banyak jumlah anak-anak yang telah sukses karena wasilah do'a dan keridhoanya yang selalu maqbul dan ijabah.
..
Filsuf ku senyumu adalah salah satu alasan mengapa aku bisa bertahan sejauh ini. Aku ingin sekali bisa menghabiskan masa muda ku dan di sisa umur ku agar selalu menjalankan nasihatmu yang sejuk itu. Agar aku tahu bahwa menjadi diri mu adalah hal-hal yang selalu aku perjuangkan. Termasuk mempersiapkan bekal menuju sangkan paraning dumadi. Kau adalah bentuk rahman rahim Tuhan di muka bumi.
..
Beliau adalah sang filsuf ku dan beliau adalah Bapak perwira ku. Jasamu tak akan hilang di makan waktu. Sehat terus bapak ku, do'a ku ada di antara ketegasan dan kebijaksanaanmu ketika kau berkata "semangat dan maju terus anaku", sambil beliau menepuk pundak ku.
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...