Langsung ke konten utama
PenSi & Deklarasi al Jabar
..
Bang Woks
Tidak terasa kini sudah bulan april lagi. Jadi ingat pada 17 april 2017, dimana pada hari tersebut merupakan hari yang bersejarah bagi perkumpulan dan komunitas mahasiswa daerah. Dimana pada momen tersebut merupakan salah satu rangkaian acara PSKM (Pekan Seni Kreasi Mahasiswa), yaitu Deklarasi FORSIDA (Forum Silaturrahmi Mahasiswa Daerah). Dan pada saat itu pula Al Jabar yang langsung di ketuai oleh Siti Musalimatus Saadah di dapuk sebagai orang yang menandatangani deklarasi tersebut.
..
Sehingga hasil keputusan rapat tanggal 13 April 2017 menetapkan bahwa beberapa FORSIDA/HMD (Himpunan Mahasiswa Daerah yang terdiri dari, IMAKA, AL JABAR, ForMASTA, Plat AE, IKAMALA, HIMAWARI, FKMJ Jombang, MAHAPUTRA dan IMAPRO. Dan di deklarasikan sebagai HMD resmi pada 17 april 2017, namun sebelumnya mereka memperkenalkan kesenian dari daerahnya masing-masing. Ada yang tari, drama, atau bahkan kolosal cerita rakyat. Dan pada saat itu al Jabar menampilkan kesenian Sintren yang berasal dari Pantura Cirebon.
..
FORSIDA sendiri membawa tema besarnya yaitu "Ragam warna eka cita untuk Nusantara", yang menurut ketua pelaksana pada saat itu ialah Mas Amir Fatah (HES) mengatakan bahwa keragaman suku bangsa, budaya, bahasa dan semuanya yang beragam itu harus di naungi dalam satu wadah HMD ini sehingga betapa pentingnya perkumpulan ini. Tepat pukul 22:00 HMD resmi di deklarasikan oleh bapak Dr H Darin Alif Mua'alifin, SH, M.Hum serta di dampingi oleh PresMa IAIN Tulungagung Miftahul Huda.
..
Al Jabar pada saat itu mendapat sambutan yang meriah karena penampilanya ciamik. Kami pada saat itu menampilkan kesenian sintren. Dimana kesenian tersebut mengandung unsur magis, selain sebagai seni tari juga disisi lain terdapat seni peran alias sandiwara. Sintren di sebut juga lain. Asal usul tarian ini berasal dari kisah cinta Dewi Sulasih dengan Raden Sulandono. Dimana kisah cinta mereka harus di pisahkan karena tidak di restui oleh ayahnya R Sulandono yaitu Ki Bahurekso. Hingga sejak kejadian itu mengantarkan Dewi Sulasih menjadi penari dan R Sulandono bertapa di sebuah gunung. Setelah sekian lama tak jumpa akhirnya menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa mereka sering bertemu dalam alam ghaib. Sehingga setiap dalam pagelaran itu sering kejadian pemanggilan arwah agar terjadi kondisi kerasukan.
Menarik sekali warisan leluhur tersebut, namun ketika kami tampil tidak terlalu menyeramkan seperti itu, cukup dengan gaya humor yang menghibur.
..
Marilah dengan adanya perkumpulan ini kita berharap para generasi muda dan khususnya kita bersama dapat menjadikan wadah belajar, saling mengenal dan bertukar pemikiran, budaya dan tentunya masih tetap mengedepankan kebhinekaan yang kaya ini. Melestarikan budaya sendiri adalah salah satu cara menghargai warisan para leluhur yang memiliki kearifan dan nilai yang adiluhung itu. Inilah yang di sebut indah dalam balutan keberagaman.
#Salam_Kahiji
#Salam_Budaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...